background img
bank bjb 1
Selain Pandemi, Indonesia Harus Mewaspadai Curah Hujan

banjir di Indonesia

Selain Pandemi, Indonesia Harus Mewaspadai Curah Hujan

Seiring datangnya musim penghujan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta seluruh pemerintah daerah bersiap siaga mengantisipasi terjadinya bencana banjir dan longsor.

"Lakukan langkah persiapan, apel siap siaga setiap hari, cek perahu, cek tenda, obat-obatan, makanan siap saji, keperluan ibu hamil dan anak balita, selimut dan lain-lain. Siapkan lebih awal," kata Doni dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (12/10/2020). Sebagaimana hasil pantauan Parstodayid dari Antara, Selasa, (13/10/2020).

Doni menjelaskan, saat ini tengah terjadi anomali cuaca di mana curah hujan menjadi lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan tahun lalu. Jika pada Oktober tahun lalu masih terjadi sejumlah kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia, tahun ini malah terjadi peningkatan curah hujan tinggi di daerah tersebut.

Sekaitan dengan hal ini, Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pihak untuk mewaspadai peningkatan curah hujan bulanan di Indonesia karena fenomena La Nina.

Banjir di Indonesia
"Laporan yang saya terima dari BMKG, fenomena La Nina diprediksi akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia akan naik 20-40 persen di atas normal," kata Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Selasa.

Presiden Joko Widodo menyampaikan hal tersebut dalam rapat terbatas dengan topik "Antisipasi Bencana Hidrometeorologi" melalui "video conference" dengan para Menteri Kabinet Indonesia Maju.

La Nina adalah kondisi penyimpangan (anomali) suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normalnya.

"Karena itu saya ingin agar kita semuanya menyiapkan diri mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi," tambah Presiden.

Presiden Jokowi juga ingin agar dampak dari La Nina terhadap produksi sektor pertanian, perikanan hingga perhubungan betul-betul dihitung.

Fenomena La Nina

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan iklim La-Nina sedang berkembang.

BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020. Diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

"Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya," kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Herizal kepada wartawan, Sabtu 3 Oktober 2020.

Namun demikian, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.(spn/PH)

Berita Lainnya
PDAM bdg NOPEMBER Perumahan pa sep iKLANBREBES 1 bawah 4