background img
bank bjb 1
Gelombang Protes atas Kebijakan Anti Islam di Prancis

Gelombang Protes atas Kebijakan Anti Islam di Prancis

Eskalasi Islamofobia di Eropa khususnya di Prancis selama beberapa pekan terakhir menyusul ulah Majalah Charlie Hebdo menerbitkan karikatur yang menghina Nabi Muhammad Saw serta pembelaan Presiden Prancis Emmanuel Macron atas pendekatan ini, bukan saja membangkitkan kemarahan Muslim dunia, bahkan juga memaksa sejumlah petinggi dan elit politik Prancis menunjukkan respon.

Sekaitan dengan ini, Mantan presiden Prancis Francois Hollande memperingatkan bahwa teroris jangan sampai disalahartikan dengan Muslim, teroris ingin mengobarkan perang antar agama.

Aksi teroris dan serangan ke pusat suci agama seperti Gereja menjadi alasan petinggi Prancis untuk meningkatkan sikap anti Islam dan melecehkan keyakinan umat Islam di Eropa khususnya di Prancis serta tekanan terhadap umat Muslim dengan alasan terorisme dan radikalisme semakin meningkat drastis.

Sementara itu, penyidikan pengadilan di berbagai kasus membuktikan kesalahan klaim ini, karena pelaku serangan teroris di kota Avignon di tenggara Prancis yang tewas di tangan polisi adalah sosok yang berafiliasi dengan gerakan sayap kanan pembela Eropa. Pelaku selain mengancam seorang pedagang Maroko dengan pisau, juga menyerang perwira polisi di sebuah jalan di kota Avignon.

Ketika petinggi Prancis khususnya Macron mengambil sikap anti Muslim dan memperkuat Islamofobia, gerakan sayap kanan di Eropa dan Prancis telah meningkatkan penentangan mereka terhadap otoritas saat ini dan situasi politik dan ekonomi saat ini di Eropa. Dengan demikian Muslim telah menjadi alasan bagi otoritas Prancis untuk membenarkan kekurangan dan masalah saat ini.

Masoud Shajara, Ketua Komisi HAM Islam di Inggris terkait hal ini mengingatkan, Macron secara terang-terangan menarget Islam danmengatakan, Islam berada dalam krisis, sedangkan pada kenyataannya kebijakan Prancis dan politisi Eropa setuju dengannya dalam krisis. Karena korupsi ini, Macron telah dipaksa untuk beralih ke rasisme dan Islamofobia lebih dari sebelumnya untuk memenangkan suara kelompok dan individu sayap kanan serta dapat kembali terpilih sebagai presiden.

Macron dan pemerintah Perancis terus mengambil sikap, sementara mengintensifkan posisi anti-Islam dan terus menghina Islam dan umat Islam, terutama Nabi (SAW) dalam bentuk hinaan dan ejekan, justru menambah rasa tidak aman dan memprovokasi lebih besar ekstrimis untuk melakukan operasi teroris.

Sheikh Al-Azhar, Ahmed al-Tayyeb meminta masyarakat dunia meratifikasi ketentuan yang menyatakan permusuhan terhadap Muslim dan kebencian kepada mereka serta yang lain sebagai sebuah kejahatan dan pantas dihukum. Ia juga menyeru umat Muslim untuk komitmen terhadap metode damai dan solusi hukum untuk membela agama Islam serta Nabi Muhammad Saw.

Sejatinya petinggi Prancis alih-alih menerima tanggung jawabnya karena menciptakan kondisi saat ini dengan membantu penyebaran terorisme di Asia Barat, berpartisipasi di perang dan mengobarkan instabilitas di kawasan ini serta Pantai Afrika, kini mereka malah memperkuat radikalisme dengan alasan tak berdasar dan melakukan langkah-langkah seperti pengusiran Muslim dan menutup sejumlah masjid.

Meski eskalasi Islamofobia dan membela penistaan terhadap sakralitas Muslim dengan alasan kebebasan berekspresi oleh petinggi Prancis dan sejumalh petinggi Eropa, sepertinya metode ini bukan saja ditolak tokoh-tokoh pecinta kebebasan di dunia, bahkan hal ini lebih tepat disebut pendekatan untuk menutupi dan menjustifikasi langkah serta kebijakan tak bijak Barat. (MF)

Berita Lainnya
PDAM bdg Perumahan pa sep dprd 1 hari pahlawan 2