background img
bank bjb
Kementan : Peredaran Daging Celeng Harus Diawasi

Kementan : Peredaran Daging Celeng Harus Diawasi

Jakarta -- Adanya lalu lintas daging celeng atau babi hutan selalu menjadi masalah dan menimbulkan keresahan masyarakat. Data dari Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Barantan) selama kurun empat tahun saja sejak 2015, ada 28,9 ton daging celeng ilegal yang dilakukan proses hukum.

“Sebenarnya, ini tidak bisa dicegah, tapi harus kita atur dan awasi, sehingga tidak menimbulkan keresahan, ini tugas bersama,” tutur Agus Sunanto, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan saat menjadi nara sumber pada acara Bincang Asik Pertanian (Bakpia) yang diselenggaran di gedung Pusat Informasi Agrobisnis, Kementerian Pertanian, Jakarta pada hari Jumat (4/1).

Menurut Agus, lalu lintas daging celeng ini tidak dapat dihindarkan mengingat adanya suplay dan demand, yang bisa pemerintah lakukan adalah mengatur lalu lintasnya sehingga menimbulkan ketenangan bagi masyarakat yang tidak mengonsumsinya. Bengkulu, Prabumulih dan Banyuasin adalah beberapa daerah penghasil daging celeng terbesar, hal tersebut karena di daerah tersebut, celeng menjadi hama bagi petani dan sasaran empuk bagi para pemburu atau penembak.

Sementara permintaan daging celeng diantaranya datang dari Jakarta, Tangerang dan Pangkalpinang. Dari data yang ada, daging tersebut digunakan untuk pakan hewan, seperti di Kebun Binatang Ragunan dan konsumsi. “Permasalahannya adalah kalau ini dioplos, nah itu yang kita pikirkan,” jelas Agus.

Salah satu inovasi dan solusi yang digagas Barantan besama instansi terkait di daerah adalah menggunakan Quarantine Tracker. Cara kerja Quarantine Tracker meliputi, daging yang disertifikasi oleh dinas peternakan dan karantina di daerah asal akan dipasangi alat pemindai lokasi atau Global Positioning System, GPS yang dipasang dalam segel di kontainer atau mobil pengangkut daging celeng.

Seluruh pergerakan alat angkut tersebut dapat dimonitor secara online oleh petugas karantina dan istansi terkait, jika terjadi kerusakan atau pembongkaran paksa, GPS juga akan memberikan notifikasi. Segel elektronik tersebut akan dibuka ditempat tujuan akhir. Hal ini diharapkan dapat mengurangi distribusi daging celeng ke tempat yang tidak seharusnya.

“Sinergitas yang baik dengan Barantan menjadikan komoditas ini dapat memberikan nilai tambah, selain dapat dikonsumsi untuk kelompok masyarakat tertentu,” kata drh. Nopiyem, MMA, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan Bengkulu. Menurutnya kini daging celeng asal daerahnya selain dapat lancar dikirim ke Taman Margasatwa Ragunan juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain dengan pengawasan.

Tidak hanya mengawasi lalu lintas di dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga mendorong komoditas tersebut untuk dapat diekspor. Hal tersebut karena adanya permintaan dari negara lain seperti Vietnam. “Pada November 2017 kita sertifikasi ekspor daging celeng sebanyak 26,4 ton ke Vietnam, kita juga akan manfaatkan peluang ini,” pungkas Agus.

Narasumber : drh. Agus Sunanto, MP – Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan, Kementerian Pertanian (rul)

Berita Lainnya
IKLAN BREBES 4 BREBES 5 square 3 iklan madan caleg
beboop BANASPATI PMI brebes
Pengumuman KPU Kota Malang amanah umah iklan motor Jamsostek nebeng