background img
bank bjb
Seminar Budidaya Lebah Madu Konsep Meliponiculture

H. Rosjid Mansyur Dewan Penasehat API dan APIDA Jabar saat memberikan sambutan (Foto: Asep Ruslan)

Sukseskan Jawa Barat Lumbung Madu Nasional 2020

Seminar Budidaya Lebah Madu Konsep Meliponiculture

CIANJUR - Madu salah satu produk primadona HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) di Indonesia. Banyak manfaat madu bagi kesehatan, kecantikan dan lain-lain menyebabkan permintaan pasar terhadap madu alam dan madu budidaya cukup tinggi.

Dalam situasi seperti ini, budidaya lebah madu Trigona sp menjadi salah satu pilihan. Lebah kecil yang tidak memiliki sengat (Stingless bee) ini tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga propolis yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.

Dengan alasan tersebut budidaya lebah madu perlu dikembangkan mengingat :

1. Budidaya lebah madu  merupakan teknologi dan inovasi  terapan yang sangat mudah di laksanakan di pedesaan oleh setiap orang

2. Budidaya lebah madu  akan dapat menyadarkan kita tentang pentingnya menanam dan memeliharah pohon untuk kelestarian lingkungan,

3. Budidaya  lebah dapat menghasilkan madu  sebagai  obat

4. Budi daya lebah madu  dapat menambah kesempatan kerja dan mengurangi penganguran

5. Budidaya  lebah madu dapat menguntungkan baik langsung dan tidak langsung. (Langsung menghasilkan madu, yaitu Propolis, Beepollen, Nektar. Ttidak langsung membantu penyerbukan tanaman sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman).

6. Budidaya  lebah madu  trigona sp sangat cocok untuk di kembangkan wilayah pedesaan bahkan diperkotaan pun bisa asalkan pakan melimpah dan jenis Trigona ini mampu bertahan di tempat pakan rendah serta tidak mudah pindah ke tempat lain  alias bandel tidak seperti budidaya apikultur

DPD IPKINDO (Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia) kabupaten Cianjur bekerjasama dengan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) WIlayah IV melakukan kolaborasi dengan mengadakan pembinaan pegawai sekaligus mengadakan Seminar di alam terbuka bertempat di Wana Wisata Pokland, kecamatan Haurwangi, kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (25/7/2019). 

Konsep Meliponiculture Untuk Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Serta Mendukung Provinsi Jawa Barat Sebagai Lumbung Madu (Foto : Asep Ruslan)

Tema seminar adalah “Konsep Meliponiculture Untuk Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Serta Mendukung Provinsi Jawa Barat Sebagai Lumbung Madu” bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Penyuluh Kehutanan agar dapat memahami prospek Pengembangan Budidaya Lebah Trigona Di Wilayah Kerja Penyuluh Kehutanan Wilayah IV sebagai wahana komunikasi, tukar informasi , wanaha pembelajaran dan wahana kerjasama dengan pihak lain serta sinergis dengan Dinas Kehutanan dan visi Jawa Barat sebagai Lumbung Madu Nasional tahun 2020.

Sebagai nara sumber adalah Yusri Satriana, S.Hut pengurus Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) dan materi yang  disampaikan adalah :

1. Karakter spesies unggul Tetragonula Biroi

2. Lokal stingles bee Tetragonula Laeviceps.

3. Hama Penyakit dan Predator Trigona sp

4. Hasil Produksi Lebah

5. Cara kerja Pembentukan madu, Propolis dan Bee Pollen

Pesertanya adalah Penyuluh Kehutanan di Wilayah Cabang Dinas Kehutanan IV (Cianjur, Bandung Barat dan Cimahi serta  Karyawan  Cabang Dinas Kehutanan  Wilayah IV).

Seminar dibuka oleh Gugum Ariandi S. Hut sebagai pembawa acara, dilanjutkan sambutan Ketua IPKINDO kabupaten Cianjur Tulus, SP, MP yang menjelaskan alasannya mengapa memlih lebah Trigona sp.

“Sebab lebah  Konsep Meliponiculture. Untuk Meningkatkan  Kelestarian Serta  Mendukung Program  Propinsi Jawa Barat Sebagai Lumbung  Madu Nasional tahun 2020 sesuai pengengarahan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Ir. Epi Kustiawan, BSc.F, MP pada saat seminar Diseminasi Teknologi Pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (Teknik Pengembangan dan Pengolahan Madu) yang dilaksanakan 24 - 25 Mei 2019 di Hotel Baydiel Cianjur,” ungkap Tulus.

Epi Kustiawan bersama Yusri Satriana dan Debby Bustomi di seminar Diseminasi Teknologi Pengolahan HHBK di Hotel Baydiel Cianjur (Foto: Asep Ruslan)

“Penjelasan mengenai seminar  membahas tentang  bagaimana diversifikasi budidaya lebah madu meliponikultur (Budidaya lebah tak bersengat/stingless bee) merupakan inovasi terapan yang  sederhana yang dapat diaplikasikan di setiap pedesaan, atau bahkan dibudidayakan di pekarangan rumah. Pengembangan  budidaya lebah madu trigona sp merupakan kegiatan sampingan yang dapat, menambah  kesempatan kerja,” tambahnya.

Yusri Satriana, H. Rosjid Mansyur dan Tulus di Wana Wisata Pokland Cianjur (Foto: Asep Ruslan)

H. Rosjid Mansur selaku Dewan Penasehat Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) dalam sambutannya mengatakan, pengembangan budidaya lebah madu dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga dapat meningkatkan rasa bersyukur sesuai Firman Allah SWT dalam QS An Nahl ayat 68-69.

“Dan Tuhan-Mu telah Mewahyuhkan kepada lebah buatlah sarang-sarang di bukit-bukit di pohon kayu yang telah dibuat oleh manusia. Dan tempuhlahlah jalan yang telah dimudahkan bagimu dari perut madu keluar bermacam-macam warna didalamnya terdapat obat yang dapat menyembuhkan bagi  manusia  sesungguhnya yang demikian itu terdapat bagi tanda-tanda bagi kaum  yang mau berfikir “ tutur H. Rosjid di Wana Wisata Pokland, Kamis (25/7/2019). 

Menurutnya ada enam syarat yang dimasukan dalam pengembangan lebah madu.

1. Tersedianya  pakan lebah yang cukup untuk kehidupan lebah dengan istilah “Gertakanlah” yaitu Gerakan Tanam Pakan Lebah  khususnya kaliandara, bunga air mata pengantin, dan jenis tanaman Xanthostemon.

2. Dekat dengan sumber Air

3. Ketinggian sesuai dengan syarat kehidupan lebah

4. Tidak ada kebisingan dan tidak ada polusi udara

5. Cukup Sarana dan prasarana

6. Sumber Daya Manusia atau pengetahuan pembudidaya harus terus bertambah

“Lokasi ini yaitu Wana Wisata Pokland, kedepan akan dikembangkan sebagai tempat Pusat Perlebahan di Indoneisa disamping tempat pengkajian dan pengembangan. Adapun fungsi wahana Pokland saat ini adalah sebagai obyek wisata,” tambahnya.

Yusri Satriana, S.Hut pengurus API dan APIDA Jabar Nara Sumber Seminar (Foto: Asep Ruslan)

Yusri dalam penyampaian materi kegiatan seminar memaparkan hasil penelitiannya selama tiga bulan di Bengkulu.

“Meliponuculture merupakan lebah yang sangat jinak dan mudah dikembangkan dan mempunyai prospek  yang cukup  bagus dikembangkan di wilayah Jawa Barat, disamping tidak mudah pindah ke tempat lain, lebah  trigona juga mengandung propoplis  dan sangat mendukung kelestarian  lingkungan. Contoh kasus dengan lebah trigona dapat meningkatkan produksi tanaman kopi 40 %,” ungkapnya.

“Keunggulan lebah trigona ini adalah tidak perlu dibudidayakan atau perlakuan khusus, tidak perlu dikembangkan, tidak perlu peralatan khusus (masker, alat pengasap, pisau diklat lebah, pengungkit kotak eram, kotak kawin, kota strter, pollen, tempat air dan cadangan makan (feerder fram) serta ekstraktor dan tidak perlu takut sengat,” tambah Yusri yang juga pengurus di APIDA Jabar (Asosiasi Perlebahan Indonesia Daerah Jawa Barat).

Menurutnya, lebah trigona juga sangat berpengaruh dalam peyerbukan tanaman sehingga hal ini merupakan simbiosis mutualisme antara tanaman dengan spesies trigona. Trigona membantu penyerbukan bunga dan dari hasil penyerbukan tersebut trigona mampu mengolah nektarnya menjadi madu yang sangat berkualitas dan kandungan gizi yang cukup tinggi.

Sementara itu dalam sesi tanya jawab, Ridwan Gunawan penyuluhan kehutanan kecamatan Cidaun mengatakan.

“Kegiatan ini sangat mendukung dan  bagus karena membuka wawasan bahwa di wilayah binaannya potensi pakan sangat tinggi dan sampai saat ini belum ada pengembangan budidaya lebah seperti ini. Ke depannya siap membantu mengembangkan Budidaya lebah madu stinglessbee dan sangat mendukung visi Provinsi Jawa Barat sebagai lumbung madu nasional dalam pengelolaan HHBK,” ujarnya.

Di akhir sesi diskusi dan tanya jawab, Tulus menyampaikan kesimpulan hasil seminar.

“Kami selaku penyuluh kehutanan mengusulkan kepada nara sumber dan Dewan Penasehat  API agar dapat memfasiltasi penyuluh, sehingga kelompok tani yang ada di wilayah Cianjur bisa berkembang dalam budidaya lebah madu ini khususnya Trigona sp,” ujar Tulus.

“Dengan adanya seminar ini kami mengajak kepada seluruh Penyuluh Kehutanan di Kabupaten Cianjur, dapat mengembangkan lebah trigona ini lebih intensif lagi mengingat mudahnya budidaya dan hasil madunya yang berkualitas. Serta trend saat ini budidaya lebah madu meliponikultur atau stingless bee (tidak bersengat) mulai cukup digemari oleh generasi milenial/generasi muda, hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang mulai merambah bisnis budidaya lebah madu Trigona sp,” ajakan Ketua IPKINDO kabupaten Cianjur.

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 Brebes 4