background img
bank bjb 1
Minyak Atsiri Potensi Bisnis Menjanjikan Di Jawa Barat

Audiensi Atsiri Jabar Pengembangan Potensi Minyak Atsiri di Jawa Barat (Foto: Asep Ruslan)

Peningkatan Ekonomi Saat Pandemi Covid-19

Minyak Atsiri Potensi Bisnis Menjanjikan Di Jawa Barat

KOTA BANDUNG - Minyak Atsiri atau yang disebut juga dengan essental oils, etherial oils, atau volatile oils adalah salah satu komodi yang memiliki potensi besar di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Minyak atsiri adalah ekstrak alami dari jenis tumbuhan tertentu, baik berasal dari daun, bunga, kayu, biji bijian bahkan putik bunga diolah menjadi beberapa minyak atsiri seperti minyak sereh wangi (citronella oil), minyak pala (nutmeg oil), minyak kayu manis (cinnamon bark oil), minyak cengkeh (clove oil), minyak jahe (ginger oil) dan minyak kayu putih (eucalyptus oil).

Minyak Atsiri berpotensi sebagai salah satu bahan alami yang dapat menghambat dan mencegah virus Corona atau Covid-19. Seperti Aromaterapi dengan bahan minyak Atsiri dengan teknologi nano yang diciptakan oleh empat pakar dari Indonesia, yakni Hendi Saryanto, ST, M. Eng, Prof (Em) Dr. Ir. Darwin Sebayang, Dr. Ing. Puji Untoro, dan Egi Agustina ST, M. Eng (Dikutip dari SuaraKarya.id Rabu (17/6/2020).

Perkebunan Sereh Wangi (Foto: Asep Ruslan)

Topan Halianto Direktur Rumah Harum Atsiri, saat audiensi menggali potensi peluang bisnis minyak Atsiri di Jawa Barat dengan Kepala Biro Perekonomian Pemerintah Pronvinsi Jawa Barat Drs. Benny Bachtiar, M.Si, diwakili Kepala Bagian Sumber Daya Alam Ena Kusnadi, S.Hut, MM, menerangkan usaha minyak daun Sereh Wangi adalah salah satu jenis minyak Atsiri yang dapat dihasilkan dari tanaman sereh wangi yang diperoleh melalui proses distilasi atau proses penyulingan daun sereh wangi kering.

“Keunggulan utama pengembangan usaha minyak sereh wangi, karena proses pengolahannya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sisa daun yang telah disuling dapat dikeringkan dan digunakan sebagai bahan bakar dan abunya dapat digunakan sebagai pupuk. Sisa air limbah yang sudah dipisahkan secara sempurna dengan minyak sereh wangi tidak menimbulkan kerusakan lingkungan,” kata Topan di Gedung Sate Jl. Diponegoro No.22 Kota Bandung, Selasa (8/9/2020).

Diskusi menggali potensi bisnis minyak atsiri di Jabar (Foto: Asep Ruslan)

Dasar pertimbangan dari pengembangan usaha minyak sereh wangi menurut Topan diantaranya :

  1. Tanaman sereh wangi mudah tumbuh dan hampir cocok di seluruh wilayah Indonesia terutama di Jawa Barat.
  2. Dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya atau tanaman kehutanan dalam rangka penangulangan lahan kritis yang jumlahnya cukup luas di Jawa Barat.
  3. Masa panen singkat yaitu masa panen perdana 5 bulan dan panen berikutnya 3 bulan sekali.
  4. Kebutuhan bibit hanya dilakukan 1 kali dan usia tumbuhan produktif hingga 5 tahun.
  5. Pasar lokal maupun eksport sangat terbuka lebar.

“Peluang untuk mengembangkan usaha minyak sereh wangi di Jawa Barat potensinya sangat besar, sebab setiap tahun kebutuhan akan minyak sereh wangi makin meningkat yaitu 5%. Sudah banyak daerah-daerah di Indonesia yang memanfaatkan tumbuhan ini dan pemghasil PAD. Salah satu contohnya di Provinsi Sumatera Barat, minyak serai wangi telah dikembangkan secara home industri berupa Lation/Body Butter, Hand Body Mosturising Oil+Vit E,  Karbol Serai Wangi, sabun cuci tangan, sabun mandi, minyak oles, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” pungkasnya.

Tim Biro Perekonomian Pemprov Jabar (Foto: Asep Ruslan)

Dalam acara audiensi tersebut tampak hadir dari PT. Karyanesia Utama Jaya, Heri C. Utomo (Dirut) dan Asep Ruslan (Direktur Komersial). Sedangkan dari Biro Perekonomian Pemprov Jabar hadir Ir. Maman Suherman, MM (Kabag Ketahanan Pangan dan Pertanian), Ir. Andriani, MM (Kasubag Lingkungan Hidup), Dindin S Pratama, SP, MAP (Kasubag Kehutanan dan Perkebunan), Nugroho Dwi Sasongko, SP (Analis Hasil Hutan) dan Rina Mulyani, S.Hut (Analis Ketahanan Energi).

Beberapa daerah yang telah menjadi sentra pengembangan sereh wangi di Indonesia, antara lain Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Jambi, Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Bali, NTB dan NTT.

"Dengan melihat peran komoditas sereh wangi dan hasil olahannya yang telah memberikan kontribusi PAD dan petani di beberapa daerah di Indonesia, tentunya harus didukung dalam suatu perencanaan yang menyeluruh, terpadu dan sinergis baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang," kata Asep Ruslan

Karbol Sereh Wangi (Foto: Asep Ruslan)

Hand Body Mosturising Oil Sereh Wangi (Foto: Asep Ruslan)

Asep juga menegaskan, untuk mendukung pengembangan komoditas sereh wangi khususnya dalam menghadapi fluktuatif harga, diperlukan komitmen dan sinergi yang baik antara pihak industri dan petani atau kelompok tani. Karena tak dapat dipungkiri industri membutuhkan produsen bahan baku, untuk itu perlunya membangun sebuah kemitraan yang saling menguntungkan antara petani dengan industri.

"Sehingga disaat harga naik akan dinikmati bersama begitu juga sebaliknya industri juga berbagi resiko bersama petani disaat harga komoditas turun. Ini merupakan bagian dari komitmen bersama dan demi kesejahteraan para petani," terangnya.

Minyak sereh wangi tidak sebatas dimanfaatkan sebagai kosmetik, juga digunakan sebagai bahan dasar farmasi dan energi sebagai green aditif penghemat BBM dalam rangka menghemat ketahanan energi nasional.

“Minyak sereh wangi semoga bisa dijadikan komoditi unggulan di Jawa Barat, sehingga bisa membantu peningkatan PAD atau sebagai sumber dana yang berkelanjutan bagi masyarakat. Sehingga Jawa Barat sukses menjadi pusat pengembangan Minyak Atsiri Nasional sebagaimana harapan dari Gubernur Jawa Barat Bapak Ridwan Kamil,” pungkas Asep Ruslan.

Berita Lainnya
PDAM bdg2 Beebopp pa erwin ASEP PRESIDEN purwakarta 2