“Kita ini memberanikan diri melakukan kegiatan-kegiatan pembinaan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tengah pandemi Covid-19 yang terus meningkat dan Kota Bandung saat ini dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau yang sekarang disebut dengan istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kegiatan seperti Coffee Monday’ adalah acara curhatan dan cerita sukses UMKM yang rutin diadakan setiap hari Senin ini,  tetap kita selenggarakan, namun dengan keyakinan, tetap waspada  dan terus menekankan  kepada peserta UMKM serta semua pihak  yang terlibat dalam kegiatan untuk selalu menjaga protokol kesehatan yang ketat, wajib 3M, tetap memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir dan menjaga jarak, serta selalu menjaga kesehatan, dan kita juga lakukan pembatasan peserta yang boleh ikut setiap kegiatan tidak lebih dari 20 orang, walaupun sebenarnya yang sudah mendaftarkan trecatat ada ratusan,” kata Iwa Gartiwa saat membuka acara Coffe Monday di Graha Kadin Kota Bandung Jalan Talaga Bodas No. 31 Kota Bandung, Senin (11/1/2021).

Dalam sambutannya Iwa Gartiwa mengatakan, sesuai Keputusan Wali Kota Bandung, Ketua Kadin Kota Bandung telah diberi amanah sebagai Wakil Ketua Pelaksana Harian Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Ekonomi Kota Bandung.

“Kadin Kota Bandung secara moril mempunya kewajiban yang lebih lagi serta mempunyai ruang gerak yang lebih luas lagi untuk bisa melakukan program-program dan kegiatan-kegiatan bersama dengan Satgas dan Pemerintahan Kota Bandung yang bermanfaat bagi  pemulihan sektor-sektor ekonomi dan dunia usaha pada umumnya di Kota Bandung, sehingga  ekonomi kota Bandung bisa bangkit dan pulih lagi, dan di tahun 2021 ini kita  awali dengan harapan baru, rasa optimistis baru dan semoga kedepan keadaan akan lebih baik lagi,” terangnya.

Bhakti Desta Alamsyah, Iwa Gartiwa dan Bambang Tris Bintoro (Foto: Asep Ruslan)

Dengan penerapam protokol kesehatan Covid-19, acara Coffee Monday yang mengawali kegiatan Kadin Kota Bandung di awal tahun 2021 ini dhadiri oleh 20 peserta UMKM, dan peserta terjauh datang dari Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Menghadirkan Narasumber  Ketua Kadin Kota Bandung, Ir. Iwa Gartiwa, MM., Wakil Ketua Bidang UMKM, Koperasi, Kemitraan dan Lisensi Kadin Kota Bandung,  Bambang Tris Bintoro, dan Komite Tetap Waralaba dan Kemitraan, Bhakti Desta Alamsyah.

“Semua peserta yang hadir belum pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Kadin Kota Bandung di tahun 2020, jadi masih baru, dan peserta terjauh datang dari Padalarang Kabupaten Bandung Barat, meskipun dengan jarak yang jauh mereka semangat untuk menambah ilmu, tetap bergeliat, tetap mencari manfaat dan mencari rezeki agar semuanya tetap berjalan,” ujar Ridwan Kurniawan, Direktur Eksekutif Kadin Kota Bandung yang bertindak sebagai pembawa acara Coffee Monday.

Dalam curhatan UMKM kali ini, sejumlah permasalahan yang ditanyakan oleh peserta  didominasi permasalahan tentang pemasaran, permodalan dan perizinan usaha.

Masalah pemasaran menjadi pertanyaan yang utama karena UMKM di masa pandemi Covid-19 menjadi lebih sulit untuk memasarkan produknya karena kegiatan usaha dibatasi, mobilitas masyarakat juga dibatasi, omzet UMKM otomatis  menurun, jika mereka terus memproduksi resiko takut tidak laku, namun karena kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa ditunda, maka UMKM tetap menjalankan usahanya. 

Dengan mereka curhat  dalam acara Coffee Monday yang diselenggarakan oleh Kadin Kota Bandung ini, peserta yang ingin mendapatkan solusi bagaimana strategi pemasaran untuk produk mereka, terutama mensiasati agar dalam kondisi pandemi ini produknya masih bisa dibeli oleh masyakat.

Sedangkan untuk permasalahan permodalan peserta yang bertanya berharap bisa memperoleh dana pinjaman untuk mengatasi kurangnya modal usaha, baik untuk memulai maupun mengembangkan usahanya, diharapan Kadin Kota Bandung punya solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Permasalahan perizinan yang mengemuka dari sejumlah peserta terutama tentang  perizinan untuk produk makanan, baik makanan ringan, frozen dan minuman, yang jadi pertanyaan peserta bagaimana mengurus perizinan usaha PIRT, Halal, Hak merek dan BPOM. Kalau memungkinkan ingin dibantu dan difasilitasi oleh Kadin Kota Bandung. Selebihnya peserta juga menanyakan tentang skill teknil marketing online/digital marketing, dan manajemen skill dan mannajemen stock.

Menanggapi berbagai pertanyaan dari peserta mengenai permasalahan pemasaran, Iwa Gartiwa memberikan pengarahan kepada para peserta.

“Ikut pelatihan-pelatihan itu penting, banyak bersilaturahmi dengan kawan-kawan semasa sekolah TK, SD, SMP, SMA sampai Kuliah. Masuk ke komunitas-komunitas usaha itu sangat membantu UMKM untuk memasarkan produk, karena di masa pamdemi ini UMKM yang bertahan itu terutama adalah yang silaturahminya baik, mereka yang humble’ dan usaha apa saja dijalani, dan mereka ternyata berhasil,” tutur Iwa Gartiwa Wakil Ketua Pelaksana Harian Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Ekonomi Kota Bandung. 

“UMKM bisa datang ke Kadin, Kadin Kota Bandung selalu terbuka untuk sipapun, Kadin ini adalah  rumah bersama, rumahnya pengusaha, Kadin ini bukan pemerintah, tapi Kadin adalah kumpulan pengusaha yang didirikan berdasarkan UU No. 1 Tahun 1987. UMKM juga bisa menjadi anggota Kadin, daftarkan saja ke sekretariat.  Untuk UMKM jika perlu untuk akses ke dinas-dinas, Kadin Kota Bandung Insya Allah bisa membantu dalam koordinasi dengan dinas,” pungkas Iwa.

Ditambahkan oleh Bhakti Desta Alamsyah, sekarang Kadin Kota Bandung bekerjasama dengan aplikasi UmKamu dan Bale Gazeebo, menyediakan tempat bagi produk UMKM untuk bisa mendisplay dan memasarkan produknya dengan sistem bagi hasil 25 : 75 persen.

“Bagi UMKM yang ingin produknya bisa dipasarkan di aplikasi UmKamu dan Bale Gazeebo bisa mendaftarkan produknya ke Kadin Kota Bandung, dengan menghubungi  Ibu Nonon Lusianawaty di bagian KBBC, produk yang masuk akan dikurasi dan untuk ketentuan layak tidaknya produk tersebut bisa didisplay mutlak keputusannya Ibu Nonon,” kata Bhakti Desta Alamsyah.

Kegiatan acara Cofee Monday (Foto: Asep Ruslan)

“Untuk saat ini sebagai pengusaha harus sudah menggunakan Whatsapp Business atau juga Google Business,  tinggal menginstal saja, mudah, karena ada beberapa kemudahan dan keuntungan dengan menggunakan kedua aplikasi itu buat usaha, diataranya, selain berfungsi sebagai handphone sekaligus juga sebagai buku menu, disana kita bisa memasang nama produk, photo produk, harga produk, menu pesan produk, jadi kita tidak harus posting terus-menerus, orang akan jenuh, bosan, pusing, jengkel, kalau kita terus mengirim atau memposting produk kita ke mereka, lama-lama malah whatsapp kita diblokir. Selain itu keuntungan lainnya adalah adanya mesin robot penjawab/asisten jika ada konsumen yang pesan mana kala kita sedang sibuk, juga ada fitur-fitur yang tinggal klik yang mengklasifikasin mana yang pesan, mana yang sudah terkirim, mana yang sudah bayar, dangan warna tombol yang berbeda-beda untuk membedakan satu sama lain, juga dengan mesin robot itu bisa membantu kita menjawab dalam bentuk tulisan/kalimat, dengan membuat kode (/) terus dienter langsung keluar kalimat jawaban, begitu juga untuk menjawab panggilan telpon whatsapp, semuanya mempermudah kita dan menjadi lebih efisien, dan gratis, jadi sebagai pengusaha disarankan segera menggunakan whatsapp business,” tambahnya.

Bambang Tris Bintoro (Foto: Asep Ruslan)

Sementara itu Bambang Tris Bintoro memberikan masukan kepada  peserta untuk  masalah pemasaran.

“UMKM harus punya strategi pemasaran, inventarisasi lagi sasaran pasar dan segmen pasar, harus sudah segmentif, jangan dilempar begitu saja ke pasar, harus tepat membidik siapa pasarnya, segmennya harus tepat. Disamping itu UMKM juga harus pintar mencari celah untuk menarik pasar dengan memperbaiki kemasan, coba produknya dikemas dengan baik sehingga harga jualnya bisa naik dan  sasarannya untuk segmen menengah atas, misalnya untuk ibu-ibu pejabat atau sosialita. selanjutnya lakukan pemasaran secara offline dan  diperkuat dengan online.  Setelah itu lakukan ekspansi usaha misalnya dengan mengembangkan usaha secara waralaba,” ujarnya.

Terkait pertanyaan peserta masalah skill teknik pembuatan toko online atau digital marketing, Iwa Gartiwa mengatakan perlu diadakan pelatihan khusus, karena perlu praktek, dan manajemen stock.

“Kadin Kota Bandung mempunyai rencana untuk mengadakan pelatihannya, tapi semuanya atas usulan dari peserta, sesuai kebutuhan peserta, pelatihan apa yang dibutuhkan dan diusulkan oleh UMKM, baru kita akan membuat pelatihannya, jadi semuanya berbasis kebutuhan masyarakat,” tutur Iwa Gartiwa.

Adapun dalam permasalahan permodalan yang diutarakan oleh peserta. Bambang tris Bintoro memberikan pandangan untuk para pelaku UMKM di masa pandemi ini pemasaran hampir semuanya menurun, pasar penuh ketidakpastian, perlu dipertanyakan lagi apakah kita memang perlu tambahan modal ? tuturnya, “ketika permodalan terbatas, permintaan banyak, hutang/pinjam modal menjadi wajib, tapi kalau permodalan terbatas, permintaan menurun, hutang/pinjam modal menjadi tidak wajib, karena yang namanya pinjaman mau ada bunga atau tidak ada bunga, tetap harus dibayar, kadang kalau kita sudah pegang uang pinjaman pikiran kita malah bukan untu usaha, tapi beli barang-barang konsumtif, pas saatnya harus bayar uangnya sduah ga ada, malah menambah masalah, ujarnya lagi.

Jika UMKM mau akses modal, ada pinjaman lunak degan bunga yang renadah ke PKBL seperti PKBL PT.LEN, PKBL PT. PINDAD, PKBL PT.ASABRI, dan lain-lain, bunganya hanya 3 persen per tahun, tidak ada agunan, minimal ada sesuatu yang dipegang PKBL,  disamping itu sumber permodalan lain ada program KUR, ventura sistemnya bagi hasil, polanya 70 : 30, syaratnya UMKM harus membuat business Plan, Bapak dan Ibu tinggal minta diakseskan oleh Kadin Kota Bandung, dibantu oleh ibu Nonon, melengkapi persyaratannya untuk diakseskan permodalan ke PKBL-PKBL atau yang lainnya, jika kesulitan dalam membuat Business plan bisa minta diajari oleh Kadin Kota Bandung, tinggal datang aja, terang Bambang Tris Bintoro. 

Ada beberapa tips-tips yang diberikan oleh para narasumber terkait dengan permasalahan yang disampaikan oleh para peserta. Tips yang diberikan oleh  Bambang Tris Bintoro untuk masalah perizinan : daftarkan merek ke Ditjen HAKI, supaya produk kita dilindungi oleh Undang-undang, cek ke Ditjen HAKI apakah merek kita ada yang sama/sudah ada yang pakai/mendaftarkan , bisa juga dicek sendiri di internet/browsing ; masa berlaku hak merek dagang ini 5 tahun, setelahnya harus didaftarkan lagi, hak merek dagang ini bisa diwariskan kepemilikannnya ke ahli waris, jika nama merek ditolak oleh Ditjet HAKI kita bisa melaukaukan sanggahan, dengan mengikuti prosedur yang ditentukan dari Ditjen HAIKI. ; untuk Perizinan PIRT dan Halal bisa diakses ke Dinkes dan MUI, Fasilitas gratis dari pemerintah sangat terbatas, jadi lebih baik UMKM melilih jalur mandiri, yang terpenting perhatikan tempat produksi dan bahan baku yang pakai harus higienis dan tidak mengandung unsur yang diharamkan pada saat pensurveyan oleh petugas dari Dinkes dan MUI, untuk lebih jelasnya UMKM bisa melihat draf penyuluhan PIRT tentang syarat-syarat sertifikat PIRT dan kehalalan dari MUI,  bayar tapi dengan bantua akses oleh Kadin Kota Bandung bisa lebih ringan biayanya, untuk UMKM yang ingi didaftarkan hak merek dagangnya, mendapatkan PIRT dan sertifikat halal,  bisa daftar ke Kadin Kota Bandung, setelah pesertanya minimal 20 orang Kadin Kota Bandung akan mengakseskan ke Ditjet HAKI, Dinkes dan MUI, bayar, tapi dengan bantuan akses oleh Kadin Kota Bandung diharapkan biayanya akan lebih ringan, terang Baambang Tris Bintoro.

Selanjutnya Iwa Gartiwa memberikan  tips untuk UMKM.

“Dalam menjalankan usaha kita harus punya impian atau cita-cita, karena tanpa disadari apabila kita yakin dan tekun dalam berikhtiar disertai dengan do’a, maka cita-cita itu suatu saat pasti akan terwujud. Setiap apa yang kita lakukan harus punya target, target tahunan, dibreakdown lagi ke target bulanan, mingguan, jadi terukur”, ujar Iwa Gartiwa.

Peserta dan nara sumber Coffe Monday (Foto: Asep Ruslan)

“Juga dalam usaha kita harus punya mentor, jika kita terbentur masalah/ mentok kita bisa meminta saran dari mentor, bisa itu teman, pengusaha yang usahanya sudah berhasil, jangan semua masalah dipikirkan sendiri,” tambahnya.

Kepada peserta yang bertanya tentang kemasan dikaitkan dengan segmen pasar, Bhakti desta Alamsyah memberikan beberapa tipsnya.

“Memasarkan produk itu harus ditentukan dulu segmen pasarnya kemana, untuk siapa, untuk kalangan atas kah, menengah atau bawah kah, jika untuk kalangan atas cara, tampilan dan bahasa digunakan harus gaya kelas atas, demikan juga utk segmen lainnya menyesuaikan, masalah harga tidak jadi masalah mahal, namun harus juga diperhatikan, mahal tidak berarti bagus dan bagus tidak berarti mahal.  untuk segmen ke warung-warung, harus ada produk kedua yang kemasannya dibedakan, harganya juga beda tapi tetap menarik dan juga perhatikan kemasan produk pada saat  didisply usahakan yang outstanding, artinya mudah dilihat oleh konsumen/pembeli,  diantara semua barisan harus mencolok mata baik dari warna ataupun bentuk, harus tampak berbeda,” tutur Bhakti Desta Alamsyah.

Di akhir acara, Ridwan Kurniawan mengingatkan kepada semua peserta untuk bisa mengimplementasikan apa-apa yang telah disampaikan oleh para narasumber dalam usahanya masing-masing, karena sebagus apapun ilmu yang diperoleh dan sehebat apapun narasumbernya, jika UMKM tidak mengiplementasikannya akan sia-sia saja,” pungkas Direktur Eksekutif Kadin Kota Bandung sambil menutup acara.