Jumat, 19 Desember 2014 | 16:19 WIB Last Update: 2014-12-19 07:12:08

Nasional

Masyarakat Medan Resah,Maraknya Perampasan Sepeda Motor Di Jalanan

Dirilis oleh Arif Tanjung, Jumat, 3 Mei 2013 | 20:41 WIB
Telah dibaca 754 kali

MEDAN,- Penarikan paksa Sepeda Motor menggunakan jasa preman ala coboy,telah sering terdengar gonjang-ganjing di kalangan masyarakat akan transaksi kredit sepeda motor.Namun parahnya lagi,penarikan paksa oleh oknum preman yang bertugas sebagai karyawan harian lepas sebagai Dept Colektor diperusahaan yang bersangkutan,tanpa surat pemberitahuan pertama dan selanjutnya bagi konsumen menyangkut tunggakannya.
Terkait maraknya perusahaan Leasing yang menggunakan jasa preman dalam hal penarikan sepeda motor, membuat masyarakat di Medan Resah dan merasa tidak nyaman bila bepergian.

Ungkapkan Dofu (38) salah seorang korban perampasan sepeda motor yang di lakukan oleh segerombolan Orang yang Tidak di Kenal (OTK) yang di duga preman suruhan Wom Finance dua hari lalu di jalan Asrama Gaperta depan Kantor Perpajakan Medan.

 
Berdasarkan keterangan Dofu kepada Wartawan bahwa sepeda motor miliknya BK 4514 AAE di rampas dengan cara di pepet di tengah jalan, lalu segerombolan orang-orang yang tidak di kenal (Preman) memaksanya agar sepeda motornya miliknya di serahkan, namun karena perlawanan tidak seimbang sepeda motor tersebut berpindah tangan di bawah ancaman Senjata Api (Pistol jenis FN).
 

Rini bagian Adminstrasi di Wom Finance Gaharu Medan ketika di Konfirmasi Simantab terkait hal tersebut, kamis (2/5) di ruang kerjanya mengatakan bahwa Pihak Wom Finance tidak ada menggunakan Jasa Preman dalam hal melakukan sweeping di jalanan, bahwa yang melakukan penarikan sepeda motor terhadap kendaraan Dofu adalah Mitra kerja dari Wom Finance yang di kontrak dan bukan Preman, katanya.
 

Mengenai adanya penggunaan senjata api ketika penarikan sepeda motor milik Dofu terjadi adalah di luar sepengetahuan Wom Finance, mengenai lebih lengkapnya silakan hubungi kepala Divisi Penarikan Wom Finance Robert Sembiring, ucapnya.
 

Padahal, menurut keterangan Dofu cicilan sepeda motor miliknya pada Wom Finance hanya tinggal satu bulan lagi yang akan berakhir pembayarannya pada bulan Mei 2012 lalu, namun pihak Wom Finance dengan angkuhnya dan merasa kebal Hukum dengan tanpa ada surat pemberitahuan ke Konsumen sebagai syarat sudah langsung main rampas saja, ungkapnya.


Ketua Komisariat Wilayah Sumatera Utara Lembaga Missi Reclassering Republik Indonesia, Badan Peserta Hukum, Negara dan Masyarakat (LMR.RI-BPH-NMS) Zaka Nur Alamsyah Ritonga, ketika di mintai tanggapannya terkait peristiwa tersebut mengatakan pihak Kepolisian dalam hal ini Polda Sumut harus bertindak cepat dan menangkap orang-orang yang di duga  Preman bayaran Wom Finance, karena telah meresahkan masyarakat di medan.


Karena Perampasan secara paksa harta/benda milik orang lain dengan sengaja adalah pelanggaran Hukum, karena setiap  orang yang melanggar hukum siapa pun dia harus di hukum, ungkapnya.


Wom Finance, menurut Zaka Nur Alamsyah Ritonga telah mengangkangi UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, serta Permen keuangan (PMK) No 130 tahun 2012 tentang pendaftaran jaminan Fidusia bagi perusahaan yang melakukan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan jaminan Fidusia.


Zaka Menjelaskan, Pada pasal 5 dalam PMK itu menyatakan, adalah suatu pelanggaran jika perusahaan pembiayaan tidak mendaftarkan jaminan Fidusia pada waktu yang di tentukan sebagai akibatnya di kenai sanksi administrasi .


Pihak pembiayaan tidak perlu lagi memaksakan kehendak karena memang sudah mengatur undang-undang sehingga kendaraan yang menunggak tidak lagi semestinya apalagi permapasan dan penodongan seperti yang di alami wartawan Harian Simantab itu sungguh tidak di benarkan apalagi statement Kapoldasu Wisnu di media, ini bukan Negara Bar-Bar bukan Negara koboy segala sesuatunya ada undang -undang yang mengatur, tuturnya.(a/*).