background img
BJB 2017
Pernikahan Dini Jadi Pilihan Untuk Putus Sekolah di Brebes

Pernikahan Dini Jadi Pilihan Untuk Putus Sekolah di Brebes

BREBES - Camat Sirampog, Munaedi SH mengatakan, saat ini ada 218 orang di kecamatannya yang mengalami putus sekolah. Dari ratusan orang tersebut, putus sekolah didominasi karena pernikahan dini.

"Penyebab karena putus sekolah didominasi karena memilih untuk menikah dini. Jumlahnya mencapai setengahnya,"ujarnya dalam Rapat Kerja Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) di Aula Kecamatan Sirampog, Jumat (6/10).

Dia menuturkan, faktor ekonomi, membuat pernikahan dini menjadi penyebab utamanya. Kebanyakan, kata dia, orang tua yang memilih untuk menikahkan berpikiran anaknya akan menjadi tanggungjawab calon suaminya. Apalagi, pilihan ini seperti sudah menjadi budaya di masyarakatnya.

"Rata-rata memang yang putus sekolah itu dilamar orang setelah lulus SMP. Ya mereka mau saja karena anggapan bahwa kesempatan baik itu (nikah dini) jarang datang,"katanya.

Munaedi menambahkan, selain nikah muda, merantau atau bekerja juga menjadi pilihan lainnya. Dikatakannya, dengan tingginya tuntutan ekonomi, membuat warganya banyak memilih tidak melanjutkan ke tingkat SMA.

Sementara itu, Kepala Baperlitbangda Kabupaten Brebes Angkatno menyebut, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes berada pada peringkat 34 dari 35 kabupaten dan Kota se Provinsi Jateng. Data itu berdasarkan dari hasil sensus yang dilakukan BPS pada 2016 lalu.

"Jadi asumsinya apabila Kabupaten Brebes santai-santai seperti ini, sampai dengan 2023 peringkatnya akan ajeg (sama, red),"tutur dia.

Dijelaskan, selain IPM, Kabupaten Brebes memiliki Pekerjaan Rumah (PR) yakni menurunkan angka kemiskinan. Angkatno menyebut, saat ini angka kemiskinan Kabupaten Brebes mencapai 19,47 persen. Praktis angka tersebut mengantarkan Kabupaten Brebes berada di peringkat ketiga terbawah dari 35 kabupaten/ kota di Jateng.

"Hasil itu didapat karena dikonversikan dari jumlah total penduduk Kabupaten Brebes yang mana kita tahu, Kabupaten Brebes jumlah penduduknya terbanyak (1,8 juta, red) se Provinsi Jateng. Makanya Wagub pernah mengatakan, apabila angka kemiskinan di Kabupaten Brebes turun, maka angka kemiskinan Provinsi Jateng juga akan turun signifikan,"terangnya.

Kendati demikian, dia menuturkan, penyebab angka kemiskinan dikarenakan faktor mental masyarakatnya saja. Dia mencontohkan, banyak warga yang mampu justru lebih memilih menjadi warga miskin. Misalkan, lanjut dia, seperti pemberian bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

"Banyak penerima PKH atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bekerja atau memiliki motor. Namun realitasnya mereka mau saja dipasangi stiker penerima BLT di rumahnya,"tandasnya.

Untuk mengatasi itu, Bupati Brebes Idza Priyanti mengadakan GKB untuk anak putus sekolah tingkat SMA. Bupati mengatakan, tujuannya untuk menjaring anak-anak yang putus sekolah di masing-masing kecamatan. Saat ini, sudah ada 12 kecamatan di Kabupaten Brebes dengan jumlah total mencapai 282 anak yang sudah kembali bersekolah.

Saat ini, pendanaan GKB masih mengandalkan lewat sumbangan dari berbagai pihak. Ditargetkan pada November 2017, GKB dapat dikover lewat APBD Kabupaten Brebes.

Ditargetkan per 1 November 2017, Perbupnya juga sudah terbit. Nantinya anak yang sudah terjaring, akan dimasukkan ke Pusat Kegiatan belajar Mengajar (PKBM).

"Saat ini yang sedang kami lakukan adalah pendataan per kecamatan. Anak yang sudah terdata kemudian akan kita masukkan lewat sistem (Dapodik),"imbuh bupati.(rbn)

Berita Lainnya
IKLAN BABEL 5 IKLAN TAHUN BARU ISLAM RADIO THOMSON1 HARI TAHUN BARU ISLAM
Hotel Pasa baru IKALAN KANG ERWIN IKLAN BABEL PPP IKLAN PARTAI DPI BABEL