background img
bank bjb
Bagaimana Progres Citarum?

DAS Citarum Yang Terkontaminasi Limbah Cair Pabrik. Foto: Doc Media

PANDANGAN: Harapan Perubahan yang Lebih Pasti

Bagaimana Progres Citarum?

PENULIS : Dimas Madia
 
BANDUNG - Citarum Harum menjadi cita - cita dan harapan masyarakat pada umumnya. Khususnya, warga yang terdampak limbah pada aliran sungai citarum.
 
Citarum adalah Sungai yang pernah menyandang predikat Internasional dengan sebutan Terkotor didunia, akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, khususnya yang sangat berbahaya bagi warga sekitar dan ekosistem lingkungan yang berdampak kerugian begitu besar.
 
Pemerintah pusat melalui peraturan presiden Nomor 15 tahun 2018 telah menegaskan, untuk mempercepat penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang terkotori limbah tersebut.
 
 
Di Jawa Barat, saat dikeluarkannya Perpres tersebut Kodam III Siliwangi sebagai pelopor secara preventif melakukan sikap tegas terhadap dampak pencemaran DAS Citarum. Bahkan, Prajurit Kodam III Siliwangi bekerja sama dengan pihak jurnalis.
 
Kodam III Siliwangi bersama insan pers membentuk komunitas Jurnalis Peduli Citarum Harum (JPCH). Bekerja bersama - sama menggarap progres citarum.
 
Sejak di keluarkannya Perpres itu Prajurit Kodam III/ Siliwangi Bekerja siang dan malam, bahkan di Hari Raya dan tanggal merahpun tetap bekerja dalam menjalankan amanat yang di emban tersebut.
 
Pemerhati Citarum, juga salahsatu bagian JPCH, Hendra Gunawan mengatakan, terkait progres kepedulian terhadap Citarum harus di pertegas secara nyata bagi Pemerintah Daerah dan Pusat.
 
“Sungai Citarum di Jawa Barat, mengaliri sebanyak 12 wilayah administrasi kabupaten dan kota dari hulu sampai hilir. Citarum juga menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan 28 Juta masyarakat," kata Hendra Kepada media, belum lama ini.
 
Berdasarkan analisanya, DAS Citarum merupakan sumber air minum untuk masyarakat antara lain Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Selain itu, sepanjang hampir 300 Km, sungai mengaliri areal irigasi untuk pertanian seluas 420.000Ha.
 
"Citarum merupakan sumber denyut nadi perekonomian Indonesia sebesar 20% GDP (Gross Domestic Product) dengan hamparan industri yang berada di sepanjang sungai itu sendiri," tuturnya.
 
Diketahui, Citarum sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat yang memiliki sejarah besar dalam perjuangan
 
Hendra memaparkan, Program Citarum yang sudah berjalan 1 Tahun lebih. Saat ini progresnya sudah masuk tahap II, tahap satu belum siap pada anggaran yang dikhususkan.
 
Menurutnya, para satgas Citarum di lapangan bekerja dengan memutar otak dan mengatur strategi dengan sekuat tenaga dalam mengawal citarum untuk merubah paradigma yang ada.
 
Dampaknya, banyak pelaku industri yang sempat mengeluh akibat saluran limbahnya di tutup satgas citarum dengan cara di cor, walaupun akhirnya di buka kembali dengan sebuah komitmen MOU, ataupun memperbaiki ipalnya dengan cara mereka sendiri.
 
PERLU PENGAWASAN DAN TINDAKAN TEGAS
 
Hendra menuturkan, Penangan Citarum bukan hal yang baru berjalan seperti pada saat ini yang sedang diupayakan. Selain saat ini, sebelumnya pun sudah ada, seperti yang program dengan moto Citarum lestari dan Citarum bestari.
 
Tapi faktanya, lanjut Hendra, tidak dapat merubah paradigma, seperti Citarum saat ini, yang lebih lekat dengan citarum harum.
 
Saat ini berjalannya Citarum harum perlahan-lahan bisa merubah paradigma dunia, dengan penanganan khusus, karena banyak melibatkan Prajurit TNI sebagai satgas Citarum, hingga citarum membawa dampak perubahan, walaupun dinilai belum maksimal.
 
"Ini perlu juga di sadari, belum ada kekompakan secara maksimal, bahkan belum benar – benar siap untuk dapat merubah Citarum menjadi harum, hingga airnya bisa di minum seperti sedia kala, bisa di nikmati dan dimanfaatkan secara utuh," terang Hendra.
 
Alasannya, menurut Hendra, pengawasan yang kurang ketat dari Dinas Lingkungan Hidup Kota, Kabupaten bahkan Provinsi masih dinilai lalai dan kurang serius dalam tugas dan fungsinya.
 
"Gubernur selaku Dansatgas sendiri masih dinilai lalai dalam ketegasan, khususnya sanksi kepada pelaku industri yang di anggap membangkang," Tegasnya.
 
Hendra menilai, karena masih banyak pengusaha industri nakal yang dengan sengaja secara diam – diam membuang limbahnya ke sungai disertai kurangnya tindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum. Hal itu menurutnya dianggap tidak berdampak efek jera.
 
DINILAI ADANYA EGO SEKTORAL
 
Hendra berharap, Gubernur selaku Dansatgas harus bisa tegas dalam menjalankan Program Citarum, bila ini mau selesai dengan cepat dan baik.
 
Hendra mengatakan, Gubernur bisa menegaskan Bupati atau Walikota untuk ikut serta dalam mengawasi hingga bertindak tegas pelaku pencemaran, karena jelas setiap Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) punya andil dan mereka dianggap mengenal industri tersebut.
 
Begitupun pada pengurus RT dan RW, faktanya di lapangan lebih banyak Tentara yang bertugas, padahal hanya sebagai bantuan saja, dan ini juga merepotkan Panglima selaku Wadansatgas, padahal yang eloknya adalah sama – sama bekerja sesuai dengan tujuan.
 
Hendra mengungkapkan, faktadi lapangan ditemui pihak industri yang membangkang serta lemahnya tindakan pihak aparat hukum, khususnya LH dalam hal ini berperan sangat penting, karena fungsi dan tugasnya jelas yang dianggap berkompetensi.
 
Seharusnya, lanjut Hendra, dalam keputusan bisa mempertimbangkan dampak serius, karena LH jelas tahu seluk beluk industri itu sendiri, dan harus bisa mengkaji dan menguji secara mendalam, layak atau tidaknya industri ini berdiri.
 
Selain itu, Hendra berharap Dinas Lingkungan Hidup Kota, Kabupaten bahkan Provinsi juga harus konsisten untuk memberikan sebuah aturan, baik sanksi ringan dan berat terhadap pelaku industri.
 
"LH sendiri tidak tegas dalam melakukan sesuatu hal, di duga kuat saling keterkaitan", Pungkasnya.
 
Hendra Menilai, Dinas Lingkungam Hidup bukan hal yang baru dalam menangani citarum, dan yang pasti hafal masalahnya dan mengenal industrinya, bila di peringatkan biasa – biasa saja mungkin sudah dari dulu, namun faktanya tidak ada perubahan.
 
Untuk saat ini, Hendra mengajak, mari kita bersama merubah itu semua demi cita – cita bersama, buang ego sektoral dan kepentingan individualisme, saatnya serius dalam bekerja dengan menerapkan anggaran sesuai dengan pos kebutuhan.
 
"Keterbukaan dalam penggunaannya diharuskan, demi tujuan baik dan transparan, agar tercipta dan terwujud pelaksanaan yang lebih baik, tidak seperti citarum yang lalu, di nilai membuang anggaran negara dengan hasil tidak nyata," harapnya.
 
Hendra memaparkan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil membentuk sekertariat Citarum harian, yang berlokasi di Kantor DLH Prov di Jl. Naripan No.25, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.
 
"Rencananya semua bermuara di sana untuk pembahasan citarum, dengan Ketua Harian Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim. Saat ini penggiat Citarum kurang dirangkul seperti Jurnalis Peduli Citarum Harum," ungkapnya.
 
Padahal, menurut Hendra, saat itu Jurnalia selalu mendampingi dan bersama mengawasi dengan satgas Citarum, selama hampir 2 tahun, sejak Letjen Doni Monardo menjabat Panglima Kodam III Siliwangi dan saat itu Ridwan Kamil masih jabat Wali Kota Bandung.
 
“DLH sendiri berkelit dengan berbagai cara, ketika ditanya terkait citarum, khususnya kegiatan yang akan di laksanakan ataupun agenda kerja harian Citarum, dengan alasan semua bagaimana ketua harian, dan dinilai saat kurang terbuka kepada wartawan," tutupnya.
Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
ASTRA MOTOR COLUMBUS MINICON1 TRAVEL BESS