background img
bank bjb
Sehari di Hutan Mangrove Indramayu Bersama Kadishut Jabar

Epi Kustiawan “Sehari di Hutan Mangrove” desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jabar (Foto: Asep Ruslan)

Hari Internasional Untuk Konservasi Ekosistem Mangrove

Sehari di Hutan Mangrove Indramayu Bersama Kadishut Jabar

INDRAMAYU - Pasca Tsunami, masyarakat dunia menjadi disadarkan arti pentingnya Fungsi Ekosistem Mangrove sebagai pelindung pantai untuk mengurangi dampak ancaman dari laut, dibuktikan ketika terjadi tsunami besar yang menerjang beberapa negara, termasuk Indonesia khususnya Aceh. Terutama setelah dikeluarkannya data dan informasi mengenai perbedaan kerusakan antara wilayah yang ditumbuhi hutan mangrove (dan vegetasi pantai lainnya) dengan wilayah yang lebih gundul. 

Ir. Epi Kustiawan BSc.F, MP Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, dari pagi hari sampai siang menghadiri acara yang bertemakan ”Sehari di Hutan Mangrove” bertempat di desa Pabean Udik, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Minggu (28/7/2019).

Hadir pada acara tersebut selain Kades Pabean Udik adalah mahasiswa IPB, UGM, UNWIR, AKAMIGAS Balongan, Pramuka, Para Pecinta Alam, Pemerhati Mangrove, seniman dan lain-lain.

Aktivitas kegiatan yang dilakukan adalah menanam pohon mangrove, pemasangan alat pemecah ombak, Ngobral (ngobrol bareng mangrove dan lingkungan), pemanfaatan dan pengolahan mangrove dan Art Performance dari Sanggar Melati Ayu. 

Kegiatan ini digagas oleh Kelompok Rumah Berdikari dan Masyarakat Peduli Pesisir dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem), setiap tanggal 26 Juli.

“Acara ini digagas oleh Kelompok Berdikari yang diketuai Sdr. Abdul Latif, didukung oleh pak Sutarjo pemenang Kalpataru 2019. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman pohon mangrove, pemasangan alat pemecah ombak, ngobral (ngobrol bareng mangrove dan lingkungan), pemanfaatan dan pengolahan mangrove dan art performance para penari dari sanggar melati ayu,” ujar Epi kepada Sinarpaginews di desa Pabean Udik, Indramayu, Minggu (28/07/2019). 

Epi memberikan apresiasi atas kiprah dan kepedulian anak-anak muda sekarang terhadap pelestarian hutan mangrove.

“Anak-anak muda millenial sudah mulai banyak tertarik ke hutan mangrove karena berhasil mengembangkan cukup banyak inovasi dalam mengolah mangrove, diantaranya dari biji tanaman mangrove bisa dibuat  dodol, sirup mangrove, obat nyamuk oles, makanan ikan dll. Dengan inovasi tersebut diharapkan masyarakat akan lebih banyak lagi menanam tanaman mangrove karena lebih banyak nilai ekonominya, bahkan usaha pariwisata pun akan semakin meningkat,” puji Epi.

“Selain itu dengan adanya hutan mangrove ini populasi burung pun akan semakin banyak hadir di tempat ini, tercatat ada kurang lebih 100 spesies burung bahkan ada satu jenis burung yang diperkirakan sudah punah kini muncul kembali,” tambahnya.

“Ekosistem mangrove sangat penting untuk kehidupan, karena berbagai manfaat dan fungsi yang disediakannya. Kelangsungan hidup akan sangat terancam akibat kenaikan permukaan air laut serta semakin langka dan terancam punahnya keanekaragaman hayati yang hidup di ekosistem mangrove. Bumi dan kemanusiaan akan sangat mengalami kerugian jika ekosistem tersebut sampai musnah,” pesan Kadishut Jabar.

 

 

 

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 TRAVEL BESS