background img
bank bjb
Membangun #BudayaSadarBencana Agar #SiapUntukSelamat

Kunjungan mahasiswa dan dosen STIKes DHB ke Diorama BNPB di Gedung Graha BNPB Jalan Pramuka Kav.38 Jakarta (Foto: Asep Ruslan)

Kunjungan Mahasiswa STIKes DHB Ke Diorama BNPB

Membangun #BudayaSadarBencana Agar #SiapUntukSelamat

JAKARTA - Sebanyak 38 mahasiswa Program Studi Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat semester VI (enam)  tahun akademik 2018/1019 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada Bandung (STIKes DHB) beserta 2 dosen pembimbing Ir. H. Asep Ruslan MS dan Dr. Nining Suparni, ST, M.KKK berkunjung ke Diorama Edukasi Bencana BNPB di Gedung Graha BNPB Jalan Pramuka Kav. 38 Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Dosen STIKes DHB Asep Ruslan dan Nining Suparni saat menyerahkan cindera mata untuk BNPB yang diterima Teguh Harjito Kasubid Media Cetak BNPB (Foto: Asep Ruslan)

Rombongan tiba di gedung Graha BNPB pukul 07.00 WIB Kamis (1/8/2019), diterima Ranti Kartikaningrum selaku Public Relation BNPB. Rangkaian kunjungan tersebut, dimulai dengan paparan dan diskusi “Membangun #BudayaSadarBencana Masyarakat Indonesia agar #SiapUntukSelamat” di lantai 11 gedung Graha BNPB oleh nara sumber Teguh Harjito selaku Kasubid Media Cetak. Dilanjutkan tour ke lokasi Diorama Edukasi Bencana BNPB di lantai 11 dan 12.

Dosen mata kuliah Epidemiologi Bencana STIKes DHB, Asep Ruslan yang oleh mahasiswa akrab dipanggil Kang Asep dalam sambutannya mengatakan.

“Kunjungan mahasiswa STIKes DHB ini terkait kegiatan praktikum lapangan dalam rangka implementasi pembelajaran mata kuliah Epidemiologi Bencana. Pentingnya belajar bencana karena kita tinggal di daerah rawan bencana. Namun, tidak banyak yang tahu apa yang terjadi dan apa yang harus disiapkan menghadapi bencana. Bencana sangat berpengaruh terhadap pembangunan berkelanjutan. Bencana berdampak pada tiga dimensi, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Diharapkan mahasiswa STIKes DHB yang berkunjung ke Diorama edukasi bencana BNPB dapat menambah pengetahuannya dalam penanggulangan bencana”, ungkap Kang Asep di lantai 11 gedung Graha BNPB, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Teguh Harjito dalam paparannya mengatakan, kami dalam menerima kunjungan ke Diorama edukasi bencana ini disesuaikan dengan para pengunjungnya.

“Teman-teman STIKes DHB adalah mahasiswa S1, dimana untuk kunjungan S1, S2 dan S3 lebih banyak pemaparan materi kebencanaan dan diskusinya dari pada kunjungan melihat-lihat ke Dioramanya. Karena tingkatan mahasiswa kunjungan ke Diorama edukasi bencana BNPB penjelasannya akan lebih cepat dipahami. Tapi kalau para pelajar khususnya dari SMP ke bawah tidak ada paparan ataupun diskusi, mereka langsung diperbanyak melihat-lihat Dioramanya dan materi-materi permainan edukasi kebencanaan”, ujar Teguh memulai pemaparannya.

Selanjutnya Teguh menjelaskan, Indonesia merupakan wilayah rawan bencana karena berada di antara tiga lempeng besar dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Australia dan lempeng Pasifik. Saking banyaknya kemungkinan bencana yang bakal terjadi di Indonesia, bahkan Indonesia disebut sebagai “Supermarket Bencana” oleh negara luar. Namun, BNPB tidak sepakat dengan sebutan itu.

"Indonesia adalah laboratorium bencana terbesar di dunia, karena hampir semua jenis bencana ada di Indonesia," tandas Teguh.

Kata Teguh, tingginya kejadian bencana karena Indonesia berada diwilayah posisi geografis Indonesia yang di apit oleh dua samudera besar dunia (samudra Hindia dan samudra Pasifik). Posisi geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia (lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik). Serta Kondisi permukaan wilayah Indonesia (relief) yang sangat beragam.

Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari pulau Sumatera - Jawa - Nusa tenggara - Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan daratan rendah yang sebagian di dominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.

Teguh mengatakan, perlunya membangun #BudayaSadarBencana merupakan elemen penting dalam membangun ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana agar #SiapUntukSelamat.

“Kesadaran merupakan elemen penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Salah satu pendekatan untuk membentuk kesadaran adalah melalui media edukasi. Saat ini, di Indonesia, fasilitas edukasi bencana yang informatif dan menarik masih sangat terbatas. Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengembangkan diorama kebencanaan sebagai media edukasi publik. Selain itu BNPB telah membuat program pemetaan daerah rawan bencana, peta analisis resiko dan dampak yang dihasilkan oleh suatu daerah rawan bencana. Sehingga masyarakat Indonesia selalu waspada dan tahu cara-cara menyelamatkan diri, sehingga kita bisa mengurangi resiko dalam menghadapi bencana agar #SiapUntukSelamat,” ungkap Teguh.

"Bila tidak ada kesadaran terhadap bencana, maka korban akan lebih sulit untuk diselamatkan," tambahnya.

#SalamTangguh #SalamKemanusiaan dari kami Ranti Kartikaningrum, Asep Ruslan, Teguh Harjito dan Nining Suparni di ruang Diorama BNPB (Foto: Asep Ruslan)

“Bila budaya sadar bencana sudah terbentuk, setiap orang paham akan ancaman bencana di wilayahnya masing-masing. Selain memahami ancaman bencana, mereka juga paham tentang sistem peringatan bencana dan bagaimana menanggapi sistem peringatan itu. Karena itu, pelatihan menghadapi bencana harus sering dilakukan. Apalagi, Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana”, harapan Teguh.

“Kesiapsiagaan bencana itu penting bagi kita semua untuk mengurangi dampak dari bencana. Untuk itu ilmu pengetahuan epidemiologi bencana yang sudah adik-adik mahasiswa kuasai, harus diaplikasikan dilapangan, dibagikan dan ditularkan kepada rekan mahasiswa yang lainnya dan masyarakat agar terbentuk #BudayaSadarBencana”, tambah kang Asep dalam diskusi yang berlangsung.

 

Foto bersama mahasiswa STIKes DHB Prodi Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, dosen pembimbing dan petugas Humas BNPB di ruang Diorama BNPB (Foto: Asep Ruslan)

Selanjutnya kunjungan mahasiswa dilanjutkan dengan Tour di lantai 11 dan 12 lokasi Diorama edukasi bencana BNPB, dimana 20 mahasiswa peminatan Epidemiologi (EPID) didampingi petugas BNPB Ranti Kartikaningrum bersama dosen STIKes DHB Nining Suparni dan 18 orang mahasiswa peminatan Kesehatan Lingkungan (KL) bersama Teguh Harjito dan Asep Ruslan.

"Diorama edukasi bencana BNPB memberikan informasi seputar bencana dan perkembangan dalam penanggulangan bencana yang sudah dilakukan BNPB. Diantaranya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera; Sejarah erupsi gunung Tambora di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat pada April tahun 1815; Erupsi gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883; Erupsi gunung Merapi 26 Oktober 2010; Gempa Bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berpusat di kabupaten Bantul berkekuatan 5,9 Skala Richer pada 27 Mei 2016; Gempa Bumi Sumatra Barat 7,6 Skala Richter pada 30 September 2009; Banjir besar di Jakarta 1 Februari 2007; Tanah longsor di Banjarnegara 12 Desember 2014; Tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 dan bencana alam lainnya”, penjelasan Ranti di lantai 12 Diorama edukasi bencana BNPB.

Ranti Kartaningrum dan Asep Ruslan beserta mahasiswa STIKes DHB di depan ruang kerja Kapusdatin & Humas BNPB almarhum Sutopo Purwo Nugroho di lantai 12 gedung Graha BNPB (Foto: Asep Ruslan)

Motris Pamungkas mahasiswi peminatan Epidemiologi (EPID), senang sekali dengan kunjungan ke BNPB. Banyak ilmu tentang kebencanaan dan cara penanganan kebencanaan.

“Berkunjung ke Diorama edukasi kebencanaan BNPB, banyak mengetahui peristiwa bencana yang terjadi di Indonesia. Dampak dari bencana baik dari segi finansial, psiko sosial maupun kerugian materi dan penyakit. BNPB mempunyai struktur dan prosedur dalam penanganan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana sehingga dalam penanganan bencana dapat tertangani dan terkoordinir dengan baik dari pusat hingga ke daerah”, ucap Motris.

“Sebagai calon Tenaga Kesehatan, saya bisa berkontribusi dalam manajemen bencana baik dari pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Dapat melakukan tindakan preventif dan promotif dalam menghadapi bencana terutama untuk pencegahan dan penanganan penyakit akibat bencana,” harapannya.

#SalamTangguh mari kita Bangun #BudayaSadarBencana agar masyarakat Indonesia #SiapUntukSelamat dari kami mahasiswa dan dosen STIKes DHB Prodi Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat (Foto: Asep Ruslan)

Sementara itu, Asep Eka Gandara mahasiswa STIKes DHB peminatan Kesehatan Lingkungan (KL) yang juga ketua kelompok mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat mengatakan.

“Data dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) ada sekitar 127 gunung api aktif di Indonesia. Dimana 19 gunung api diantaranya ada di pulau Jawa. Dengan banyaknya gunung api tersebut menyebabkan Indonesia mempunyai potensi bencana yang tinggi karena kapan pun bisa erupsi. Tapi Gunung api juga memiliki potensi sebagai sumber energi yang bisa dimanfaatkan sebagai pusat listrik tenaga panas bumi. Saya sangat tertarik belajar penanggulangan bencana erupsi gunung api. Saya lihat di Diorama edukasi bencana BNPB ada simulasi tampilan gunung api secara 3 dimensi, sejarah erupsi gunung api dan informasi lainnya dalam penanggulangan bencana gunung api,” ujar Eka penuh semangat.

Nining Suparni Dosen tetap Prodi Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes DHB mengatakan.

“Tujuan kunjungan mahasiswa ke BNPB agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori kebencanaan dan penanggulangannya hanya di kelas saja, dengan datang ke Diorama edukasi kebencanaan BNPB dapat menambah ilmu sesuai tujuan bahan ajar silabus dan distribusi mata kuliah tujuan PBM akan tercapai,” kata Nining.

“Pokoknya anak-anak senang dan pastinya menambah wawasan. Terimakasih BNPB, Salam Tangguh”, pungkas Nining.

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 TRAVEL BESS