background img
bank bjb
Kunci Hidup Sukses Seorang Muslim

Asep Ruslan bersama Prof. Dr. KH. Miftah Faridl, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung Periode 2016-2021

Kunci Hidup Sukses Seorang Muslim

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS Ali Imran : 160).

BANDUNG - Sebagian orang beranggapan bahwa orang yang sukses adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Seorang ayah dihari tuanya akan tersenyum puas karena telah berhasil mengayuh bahtera rumah tangga yang bahagia, sementara anak anaknya telah ia antar ke gerbang cakrawala keberhasilan hidup yang mandiri. Atau orang yang sukses adalah orang yang berharta banyak, punya rumah mewah banyak, mobil motor mewah, istrinya pun lebih dari satu dan lain-lain.

Pendek kata, adalah hak setiap orang untuk menentukan sendiri dari sudut pandang mana ia melihat orang yang sukses hidupnya. Akan tetapi, Sukses dari sudut pandang kita sebagai seorang Muslim itu yang bagaimana?

Asep Ruslan bersama sebagian santri dan para pengajar di Pesantren Rahmatan Lil Alamin (Pesantren Nagrak) di Purwakarta, Jawa Barat.

 

Fondasi yang kuat

Kalau kita hendak membangun rumah, maka yang perlu terlebih dahulu dibuat dan diperkokoh adalah fondasinya. Karena, fondasi yang tidak kuat sudah pasti bangunan akan cepat ambruk.

Sering terjadi menimpa sebuah perusahaan, misalnya yang asalnya memiliki kinerja yang baik, sehingga maju pesat, tetapi ternyata ditengah jalan rontok. Padahal, perusahaan tersebut tinggal satu dua langkah lagi menjelang sukses. Mengapa bisa demikian? ternyata faktor penyebabnya adalah karena didalamnya merajalela ketidakjujuran, penipuan dan aneka kezhaliman lainnya.

Tak jarang pula terjadi pada sebuah keluarga, rumah tangganya harmonis dan berkecukupan dalam hal materi. Sang suami sukses meniti karir, sang isteri pandai bergaul ditengah masyarakat, sementara anak-anaknya pun berhasil menempuh jenjang studi yang tinggi, bahkan yang sudah bekerjapun dapat posisi yang bagus. Namun apa yang terjadi kemudian?

Suatu ketika hancurlah keutuhan rumah tangganya itu karena beberapa faktor yang mungkin mental mereka tidak siap untuk menghadapinya. Suami lupa diri karena harta, gelar, pangkat dan kedudukannya, sehingga tergelincir mengabaikan kesetiaannya kepada keluarga.

Isteripun menjadi lupa akan posisinya sendiri, terjebak dalam prasangka, mudah iri terhadap sesamanya, bahkan menjadi pendorong suami dalam berbagai perilaku korupsi. Anak-anakpun tidak lagi menemukan ketenangan karena sehari-hari menonton keteladanan yang buruk dari orangtuanya dan makan harta yang tidak berkah.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merintis sesuatu secara baik? Alangkah indah dan mengesankan kalau kita meyakini satu hal, bahwa Tiada kesuksesan yang sesungguhnya, kecuali kalau Allah Azza wa Jalla menolong segala urusan kita.

Dengan kata lain apabila kita merindukan dapat meraih tangga kesuksesan, maka segala aspek yang berkaitan dengan dimensi sukses itu sendiri, harus disandarkan pada satu prinsip, yakni Sukses dengan dan karena pertolongan Allah SWT.

Inilah yang dimaksud dengan fondasi yang tidak bisa tidak, harus diperkokoh sebelum kita membangun dan menegakkan menara gading kesuksesan.

 

Sunnatullah dan Inayatullah

Terjadinya seseorang bisa mencapai sukses atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya, ternyata sangat bergantung pada 2 hal: Sunnatullah dan Inayatullah. Sunatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang terjadinya menghendaki proses sebab dan akibat, sehingga membuka peluang bagi perekayasaan oleh perbuatan manusia.

Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dengan predikat memuaskan. Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad, untuk bersungguh-sungguh dalam belajarnya, mempersiapkan fisik dan pikiran dengan sebaik-baiknya, lalu meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sedemikian rupa, sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu terwujud.

Akan tetapi, ada bis yang terjatuh ke dalam jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya, tetapi seorang bayi selamat tanpa sedikitpun terluka. Seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai 11 ternyata tidak apa-apa, padahal secara logika terjatuh dari lantai 2 saja anak itu bisa tewas.

Sebaliknya, mahasiswa yang telah bersungguh-sungguh berikhtiar tadi, bisa saja gagal total hanya karena Allah menakdirkan ia sakit parah menjelang masa ujian akhir studinya, misalnya. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada yang mustahil bila Inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.

Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan memperoleh kesuksesan karena telah mencukupi prasyarat sunnatullah. Akan tetapi, bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah. Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana Allah atas manusia?

Boleh saja kita berjuang habis-habisan untuk memperoleh kesuksesan. Akan tetapi, kalau ternyata Allah menghendaki lain, lantas kita mau apa? Mau kecewa? kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Lagipula, kecewa yang timbul dihati, tiada lain karena kita amat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita. Padahal Allah lah penentu segala kejadian, karena hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui hikmah dibalik segala kejadian.

 

Apa Kunci Hidup Sukses

Lantas Apa kuncinya hidup Sukses? Kuncinya adalah kalau kita menginginkan hidup sukses di dunia, maka janganlah hanya sibuk merekayasa diri dan keadaan dalam rangka ikhtiar dhahir semata, tetapi juga rekayasalah diri kita supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah SWT.

Ikhtiar dhahir akan menghadapkan kita pada 2 pilihan, yakni tercapainya apa yang kita dambakan, karena faktor sunnatullah tadi? Namun juga tidak mustahil akan berujung pada kegagalan kalau Allah menghendaki lain.

Lain halnya kalau ikhtiar dhahir itu diiringkan dengan ikhtiar bathin. Mengawalinya dengan dasar niat yang benar dan ikhlas semata mata demi ibadah kepada Allah. Berikhtiar dengan cara yang benar, kesungguhan yang tinggi, ilmu yang tepat sesuai yang diperlukan, jujur, tidak suka menganiaya orang lain dan tidak mudah berputus asa.

Senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Allah semata, seraya menepis sama sekali dari berharap kepada makhluk. Memohon dengan segenap hati kepada Allah agar apa-apa yang tengah diikhtiarkan itu bisa membawa maslahat bagi dirinya mapun bagi orang lain, kiranya Allah berkenan menolong memudahkan segala urusan kita. Dan tidak lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Allah SWT SWT.

Bila Allah sudah menolong kita, maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan Allah? Walaupun bergabung seluruh jin dan manusia untuk menghalangi pertolongan yang diturunkan Allah atas seorang hamba-Nya, sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Allah memang berkewajiban menolong hamba-hambaNya yang beriman dan beramal soleh.

 

Kesimpulan

Orang yang memperoleh semua apa yang dicita-citakan adalah orang yang sukses. Akan tetapi kesuksesan itu adalah kesuksesan semu/sementara, yang kemudian akan ditinggalkannya. Adapun kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang masuk ke surga dan terhindar dari neraka. Allah SWT berfirman :

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kita. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)

Inilah kesuksesan yang sebenarnya, yang pantas dijadikan cita-cita kita. Selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bisa meraihnya. Dunia sekarang kita bahagia dan akhirat kelak kita akan masuk surga-Nya Allah SWT. Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin.

 

Oleh: Ir. H. Asep Ruslan

Ketua Yayasan Rahmat Lil Alamin (YARLA) dan Pembina Pesantren Tahfidz Quran Rahmatan Lil Alamin (Pesantren Nagrak di Purwakarta)

Disampaikan dalam khutbah Jum'at (13/9/2019 di Masjid Jami Al Muhajir Komplek Bumi Panyileukan, Kota Bandung.

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 Brebes 4