background img
bank bjb
Ngobrol Citarum Harum Bersama Kol. Inf. Asep Rahman Taufik Dansektor 22

Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik Dansektor 22 Citarum Harum bersama Anggota (Foto: Asep Ruslan)

Mengembalikan Citarum Sebagai Sumber Kehidupan

Ngobrol Citarum Harum Bersama Kol. Inf. Asep Rahman Taufik Dansektor 22

BANDUNG - Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Dalam Pasal 8 ayat 1, Panglima Kodam III/Siliwangi bertugas sebagai Wakil Komandan Bidang Penataan Ekosistem I, di bawah komando Gubernur Jawa Barat sebagai Komandan Satgas.

Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik selaku Dansektor 22 Citarum Harum, kepada Sinarpaginews mengatakan.

“Sektor 22 Citarum Harum membawahi 17 sektor wilayah kerja : Sub 01 Astana Anyar Bojongloa Kaler, Sub 02 Daerah Cikutra, Cipadung dan sekitarnya Sub 03 Andir dan Cicendo, Sub 04 Lengkong dan sekitarnya,Sub 05 Kiaracondong dan sekitarnya,Sub 06 Bandung kulon dan Bacip, Sub 07 Sukasari dan Sukajadi,Sub 08 Coblong dan Cidadap, Sub 09 Gedebage , Rancasari dan Buahbatu, Sub 10 Mandalajati dan Arcamanik,Sub 11 Cibiru Ujungberung dan Panyileukan, Sub 12 Bandung wetan dan Sumur Bandung, Sub 13 Bojongloa Kidul, Sub 14 Bandung Kidul,Sub 15 Dago (Pembibitan) Kota Bandung dan yang masuk ke Kabupaten Bandung 2 Sub Sektor yaitu, Sub 16 Lembang dan Sub 17 Cimenyan Kab.Bandung,” kata Dansektor 22 Citarum Harum membuka obrolannya di Posko Sektor 22 Citarum Harum Jalan Suryalaya IX No.2 Bandung, Sabtu (01/02/2020) siang.

Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik bersama Asep Ruslan Redaksi Sinarpaginews (Foto: Asep Ruslan)

7 Permasalahan Citarum Harum Sektor 22

Prioritas permasalahan Sungai Citarum apa yang harus dikerjakan oleh Sektor 22 di tahun 2020 ?

Sejak tahun 2018, 2019 dan masuk 2020, semua permasalahan Sungai Citarum yang ada di Sektor 22 itu semuanya menjadi priorotas.

Setidaknya di Sektor 22 Citarum Harum terdapat 7 permasalahan :

  1. Kotoran Sapi.
  2. Lahan Kritis KBU.
  3. Sampah Rumah Tangga.
  4. Limbah Domestik/BAB Sembarangan (ODF)
  5. Limbah Industri
  6. Sadimentasi
  7. Perilaku Budaya Masyarakat

1. Kotoran Sapi.

Sektor 22 Citarum harum memiliki luas wilayah binaan ada di Kota Bandung 151 kelurahan dari 30 kecamatan dengan jumlah penduduknya sekitar 2.000.600 orang, Kecamatan Lembang terdapat 225 RW dan 16 desa, dan Kecamatan Cimeunyan terdapat 9 desa dan 2 kelurahan. Jadi cukup luas wilayahnya dan permasalahan juga sukup banyak.

Di wilayah kecamatan Lembang misalnya, ada populasi ternak sapi susu perah 22.400 ekor. Berarti kontribusi kotoran sapi dengan Asumsi 1 ekor Sapi ada 10 Kg kotoran, berarti ada 224 ton potensi kotoran sapi per hari yang berkontribusi sebagian besar terbuang ke sungai.

Disamping kotoran sapi yang sudah dimanfaatkan warga seperti untuk ternak cacing, menyiram tanaman rumput gajah, kompos dan Biogas. Jadi sudah terserap kotoran sapi sekitar 35-40% atau masih ada kotoran sapi yang liar bermuara ke sungai sungai Cikapundung dan Sungai Cibeureum sekitar 167 ton setiap hari.

Apa yang sudah Bapak lakukan ?

Cara yang sudah dilakukan adalah Edukasi Warga khususnya peternak sapi melakukan pengolahan kotoran sapinya, berupa pengomposan dan kami memberikan contoh. Alhamdulillah kami dapat pinjaman lahan dari warga ukuran 20mx8m dibuat instalasi pengomposan dan sudah menghasilkan kompos 160 ton per hari. Lokasinya di desa Gudangkahuripan kampung Pasir Wangi RW.07 Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

2. Lahan Kritis di KBU.

Permasalahan lahan Kritis masyarakat yang cukup luas di wilayah kecamatan Lembang dan kecamatan Cimeunyan, seluas 1.450 Ha. Ini perlu segera dilakukan penanaman dengan pohon yang memiliki 2 fungsi. Fungsi sebagi konservasi dan fungsi ekonomi atau penanaman sistem Agroforestri.

Apa yang sudah Bapak lakukan ?

Tahun 2018 sd. 2019 jumlah pohon yang sudah ditanam oleh kami di KBU 47.500 pohon yang lokasinya tersebar di beberapa wilayah, total luasnya baru sekitar 25 Ha.

Awal bulan Januari 2020 ini kami sudah tanam 18.750 pohon. Dengan harapan bisa menghijaukan kembali KBU ditengah gencarnya pembukaan lahan hijau untuk dijadikan hunian atau perambahan lainnya.

Apa kaitannya dengan kompos yang sudah Bapak buat ?

Kaitannya dengan kompos yang sudah diproduksi tadi, kita manfaatkan sendiri untuk tanam pohon, mulai dari proses pembibitan di Dago Resort kecamatan Cimeunyan seluas 3 Ha lahan pinjaman dari masyarakat yang digunakan untuk pembibitan. Sudah bisa memproduksi  28.000 pohon keras siap tanam, terdiri dari 23 jenis pohon seperti : Suren, Rasamala, Tarum, Mahoni Uganda, Parahiba, Cadar Honduras, Ketapang, dll.

Semoga bibit pohon yang sudah kami persiapkan ini dapat mendukung program penghijauan yang digelorakan oleh Gubernur Jawa Barat Bapak Ridwan Kamil yaitu Gerakan Penanaman Nasional Daerah Aliran Sungai (GN-PDAS) akan menanam 25 juta pohon di lokasi Kawasan Bandung Utara (KBU) di wilayah Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung pada Senin (09/12/2019) lalu. Salah satu sentra penghasil pohonnya ada di Sektor 22 Citarum Harum, mudah-mudahan ini bisa dimanfaatkan.

Sektor 22 hanya memiliki tanaman jenis pohon keras, apa solusinya agar bisa ditanam juga pohon buah-buahan seperti harapan masyarakat ?

Solusinya kami kolaborasi dengan instansi pemerintah yaitu Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan para pengusaha, seperti salah satunya pengusaha dibidang lingkungan dari Bogor yaitu PT. Sarbi Group yang sudah menyumbang bibit Jeruk Lemon California sebanyak 5.000 pohon. Semoga kepedulian dari PT. SARBI GROUP ini bisa diikuti oleh para pengusaha lainnya.

Penanaman lahan kritis KBU kolaborasi Sektor 22, Pemda Kabupaten Bandung, Dishut Jabar dan PT. Sarbi Group (Foto: Asep Ruslan)

Jadi kalau penghijauan di KBU hanya ditanam jenis pohon keras saja masyarakat menolak, tapi kalau dikolaborasikan dengan pohon buah-buahan masyarakat siap untuk menanam dan merawatnya.

3. Sampah Rumah Tangga.

Apa yang sudah dilakukan oleh Bapak ?

Khusus untuk solusi penanganan sampah di sungai, kami sudah membuat Jaring Sampah di setiap perbatasan sungai antar kelurahan, sehingga bisa jadi indikator penilaian kelurahan mana yang paling banyak kontribusi sampahnya di sungai.

Setelah jaring sampah dipasang, apakah ada muncul permasalahan lain ?

Ada muncul permasalahan lain. Karena tifikal sungai di kota Bandung punya gravitasi yang sangat tinggi. Kalau turun hujan lebat jaring sampah yang dipasang pasti jebol. Dari total 150 jaring sampah yang sudah dibuat, 82 buah jebol karena ditanam permanen dan sisanya 56 aman karena kita rubah metodenya jaring sampah ditanam semi permanen. Ketika arus deras, jaring sampah diangkat. Jadi normalnya jaring sampah bisa berfungsi efektif apabila air sungai normal.

Alhamdulillah pemerintah Kota Bandung sekarang punya perhatian terhadap kebersihan kota melalui program Kang Pisman (kurangi sampah makanan, pilah sampah, dan manfaatkan sampah menjadi nilai jual) yang sudah mulai di terapkan di Kota Bandung.

4. Limbah Domestik/BAB Sembarangan (ODF).

Menurut data yang saya baca, Limbah Domestik di kota Bandung angkanya cukup tinggi. Apa solusi yang telah Bapak lakukan ?

Program Citarum Harum untuk mengatasi limbah domestik, alhamdulillah gayung bersambut dengan Program Walikota Bandung Bapak Oded Danial. Di seluruh wilayah kota Bandung Pak Oded ingin mewujudkan bebas Buang Air Besar (BAB) sembarangan atau 100% ODF (Open Defecation Free). Artinya sudah tidak ada lagi warga kota Bandung yang BAB sembarangan ke sungai. Jadi sudah ada Septic Tank atau pembangunan Komunal-komunal.

Angka ODF di tahun 2018 sebelum program Citarum Harum masuk jumlah kuantitasnya sekitar 249.500 KK yang belum terakses ke Komunal. Saat kami masuk melalui edukasi dan kolaborasi dengan instansi pemerintah terkait yaitu DPKP3, dibangunkanlah komunal-komunal dari berbagai sumber dana, baik dana yang berasal program APBN melalui Citarum Harum, juga pembangunan komunal berasal dari dana APBD bahkan IDB, kini bisa terakses banyak dan  turun menjadi sekitar 210.000 KK yang belum terakses.

Tapi dari sisi kwalitas, kenaikan persentase ODF tahun 2019 masih kecil diangka 64,04% dari 61,02% di tahun 2018. Artinya PR Walikota Bandung agar ODF mencapai 100% masih sekitar 39,6%.

Apa kendala dan solusi apa untuk pembangunan komunal ini ?

Permasalahannya perumahan di kota Bandung sangat padat. Pembangunan Komunal butuh lahan yang cukup luas yaitu : 5mx8m, 3mx10m, 2x10m atau 2mx8m juga bisa.

Solusinya gang-gang dimanfaatkan untuk dibangun komunal, agar limbah domestik, BAB dan cairan rumah tangga tidak langsung dibuang ke sungai, tapi ada proses sanitasi di komunal tersebut, sehingga keluar air yang dibuang ke sungai sudah bersih.

5. Limbah Industri.

Sebelum adanya program Citarum Harum, sungai-sungai di kota Bandung warnanya pada hitam, merah atau hijau karena zat-zat kimia yang dibuang ke sungai. Apa yang sudah Bapak lakukan ?

Kita sudah melakukan edukasi kepada para pelaku industri, bahkan yang sudah di edukasi atau diingatkan tidak berubah, kita lakukan tindakan tegas berupa sangsi sosial. Yaitu pembersihan sungai yang dilalui limbah industrinya oleh para pelaku industri. Sampai sangsi penutupan sementara bahkan penutupan permanen sudah kami lakukan.

Alhamdulillah pelaku industri kini sudah berupaya semuanya membangun Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan memproses limbah dengan baik, sehingga sekarang jarang sungai berwarna merah, hijau atau hitam lagi. Sehingga industri membuang air ke sungai sesuai baku mutu dan bisa hidup biota-biota disepanjang sungai sekitar industri tersebut.

6. Sadimentasi.

Sadimentasi sungai sudah sangat tebal sekali akibat erosi atau penggundulan lahan di KBU. Apa yang telah Bapak perbuat ?

Solusinya selain masif melakukan penanaman pohon-pohon di wilayah KBU kolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan pihak-pihak lainnya, juga melakukan pengerukan sungai dengan cara mekanik menggunakan alat berat seperti Excavator ataupun secara manual.

Penanaman lahan kritis KBU kolaborasi Dansektor 22, Dishut Jabar dan mahasiswa UNIKOM (Foto: Asep Ruslan)

7. Perilaku Budaya Masyarakat (Mindset).

Kebersihan lingkungan merupakan hal yang sering dilalaikan oleh masyarakat sekitar. Kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup menimbulkan permasalahan lingkungan hidup yang cukup serius.

Masih adanya oknum masyarakat yang masih membuang sampah atau limbah domestik ke sungai, masih enggan membuat Septic Tank, masih setengah-setengah membangun komunal dan IPAL. Apa yang Bapak lakukan ?

Harapan kedepan permasalahan lingkungan bukan hanya permasalahan pemerintah saja, bukan permasalahan instansi tertentu saja, tapi permasalahan kita bersama. Kesadaran masyarakat merupakan wujud dukungan terhadap program Citarum Harum, makanya dilakukan pengolahan-pengolahan sampah. Karena masyarakat itu fokus di sampah dan limbah domestik.

Banyak metoda-metoda pengolahan sampah seperti Biofori, Takakura atau metoda pengomposan. Metode apa yang bapak punya untuk pengolahan sampah ini ?

Sektor 22 Citarum Harum sedang mensosialisasikan metoda pengolahan sampah LOSEDA (Lodong Sampah Sesa Dapur). Hasil riset di RW.05 kelurahan Malabar kecamatan Lengkong kota Bandung. Ada 1 LOSEDA tingginya 120 Cm dibenamkan ketanah 40 Cm, diisi sampah organik dari 7 rumah kurang lebih 1,5 Kg per hari. Sampai dengan hari  ini sudah hari ke 56, dimana 1 LOSEDA yang sudah kita buat masih belum penuh. Artinya alat ini sangat efektif untuk menampung sampah organik di setiap rumah.

LOSEDA (Lodong Sampah Sesa Dapur) karya Dansektor 22 Citarum Harum (Foto: Asep Ruslan)

Apa media pembusukan yang dibuat ?

Media pembusukannya menggunakan bahan organik yaitu campuran air kelapa, air beras dan gula merah. Atau menggunakan cairan MOL (Mikro Organisme Lokal) yang kita ciptakan sendiri. Pembuatan MOL ini sangat sederhana, berasal dari buah-buahan busuk dicampur air kelapa dan air beras dengan perbandingan 1:1 dan masukan gula merah lalu permentasi selama 15 hari.  Semoga sampah organik akan selesai di rumah kita masing-masing.

Tapi masalahnya kadang kita malas melakukannya, bagaimana caranya membunuh rasa malas ?

Cara untuk membunuh rasa malas, kita harus banggkitkan rasa cinta terhadap lingkungan. Ketika diviralkan sungai kebanggaan masyarakat Jawa Barat yaitu sungai Citarum disebut sebagai sungai terkotor di dunia, kita semuanya terhenyak.

Akhirnya kita bahu membahu untuk membersihkannya, kenyataannya di tahun ke dua ini (tahun 2019), kita bisa lihat sendiri. Dulu sungai Citarum dipenuhi dengan sampah, sekarang sudah bersih. Walaupun masih ada sampah, tetapi volumenya semakin sedikit dari hari ke hari.

Ada yang mengatakan, program Citarum Harum akan dijadikan tempat belajar bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia untuk mengelola sungainya agar lebih bersih lagi. Bagaimana pendapat Bapak ?

Program Citarum Harum semoga bisa berhasil sesuai dengan harapan sampai tahun 2025, tentunya perlu dukungan semua pihak dan perlu terjadinya sinergitas kebersamaaan untuk meyelesaikan permasalahan pelik dan kumplit ini, perlu sinergitas Penta Helix bahkan Multi Helix. Mulai dari unsur pemerintah, akademisi, pengusaha, Ulama, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, pengusaha dan media.

"Semoga program Citarum Harum ini bisa sukses, harapan masyarakat juga bisa terjawab  mengembalikan kejayaan sungai Citarum sebagai sumber kehidupan kita," pungkas Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik mengakhiri obrolannya.

Berita Lainnya
radio  thomson bank bjb bawah iklan umroh astra motor