background img
bank bjb
Kampung Adat Dukuh Cikelet Garut Selatan Bernuansa Islami

Kampung Adat Dukuh Cikelet Garut Selatan Bernuansa Islami

“Dukuh matuh dayeuh maneuh, bunyina carangka eling, Dukuh padumukan matuh katurunan kampung Dukuh, keukeuh pengkuh sarta patuh sadaya piwuruk sepuh”. Petuah itu menegaskan keberadaan kampung  Dukuh sebagai satu komunitas yang terdiri atas orang-orang yang konsisten memegang adat istiadat leluhur mereka.

Kampung Dukuh merupakan sebuah perkampungan adat yang sangat kental dengan ajaran agama Islam, kampung yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat ini berkehidupan sederhana baik dalam segi bangunan rumah adat, pakaian,  bahasa, perilaku tingkah pola masyarakatnya yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhurnya.

Terdapat 42 rumah dan sebuah bangunan masjid. Terdiri dari 40 kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh luar.

Kata Dukuh berarti calik atau duduk, berasal dari Padukuhan yang merupakan tempat bermukim atau yang baik untuk bermunajat, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Kampung ini berpatokan kepada mazhab Imam Syafe’i serta ajaran Tasawuf Syekh Abdul Jalil yang merupakan ajaran para sufisme atau orang-orang penganut tasawuf.

Berada diantara tiga gunung, Gunung Batu Cupak, Gunung Dukuh, dan Gunung Batu, semua bangunan rumah terbuat dari kayu dan ada larangan untuk tidak menggunakan kaca, tembok, dan genteng, 

Perkampungan adat yang berjarak sekitar 1,5 km dari Desa Cijambe atau 120 km dari pusat kota Garut, luas kampungnya 1,5 Ha, yang terdiri tiga wilayah meliputi Kampung Dukuh Dalam, Dukuh Luar serta kawasan khusus Makam Karomah.

Ada satu tempat yang dianggap sakral oleh warga di kampung ini, yakni makam leluhur Kampung Adat Dukuh Dalam Syekh Abdul Jalil. Untuk menuju area makam, pengunjung harus mendaki kaki Gunung Dukuh. Makam Syekh Abdul Jalil tepat berada di dalam hutan tutupan.

Makam ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia setiap Hari Sabtu. Sebelum menuju makam, para peziarah diwajibkan untuk mandi dan berwudhu di sebuah jamban yang sudah disediakan.

Pada awalnya kampung ini didirikan oleh Sembah Lebe Warta Kusumah (Syekh Abdul Jalil) dan Syekh Pamijahan Tasik yang bermukim disini untuk menyebarkan agama Islam dan melakukan kholwat ditempat ini oleh petunjuk gurunya Syekh Abdul Qodir al Jailani, namun karena dalam kholwatnya tidak mendapatkan petunjuk akhirnya beliau hijrah setelah ayahnya  Sembah Lebe Warta Kusumah (Syekh Abdul Jalil) meninggal dunia dikampung ini.

Di sini Syekh Pamijahan bermukim selama 1 tahun (1685 - 1686 M), kemudian beliau mengembara ke Tasikmalaya ke daerah Pamijahan dan akhirnya menemukan tempat yang sesuai untuk kholwatnya yaitu di Goa Pamijahan, hingga akhirnya beliau menetap dan menyebarkan agama Islam di sana.

Sumber: Lacak Luluhur Sumedang

Berita Lainnya
IKLAN  BRBES NEBENG IKLAN SALES MOTOR RADIO THOMSON TEGAL BJB IKLAN
PMI gratisa RADIO THOMSON TEGAL amanah umah thomson radio
ASTRA MOTOR COLUMBUS MINICON1 TRAVEL BESS