background img
bank bjb
Mengenal Suku Dayak Tengon

Mengenal Suku Dayak Tengon

Suku Dayak Tengon (Bi Hngon, Bidayuh Kumba), bermukim di perkampungan Tengon, yang berada di dataran tinggi atau puncak bukit, dengan suhu udara yang selalu sejuk. Populasi suku Dayak Tengon diperkirakan sebesar 1.068 orang menurut sensus 1998.

Suku Dayak Tengon tersebar di perkampungan yang terdiri dari 5 kampung, yaitu kampung Tengon Kulum, kampung Tengon Pelai’, kampung Tengon Upas, kampung Tengon Kadik I (Bakguh) dan kampung Tengon Kadik II (Nyaloi), seluruh perkampungan ini berada di provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak Tengon berbicara dalam bahasa Tengon yang disebut juga sebagai bahasa Badeneh, kadang disebut juga disebut sebagai bahasa Bidayuh atau bahasa Kumba. Bahasa Tengon memiliki ciri khas yang berbeda dengan bahasa-bahasa dayak lain, suara yang dikeluarkan ketika berbicara lebih banyak melalui hidung (sengau). Secara karakter bahasa ini dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Bidayuhik.

Istilah Bi Hngon berarti "orang Tengon". Suku Dayak Tengon oleh kelompok etnis lain, dianggap juga sebagai Dayak Kumba yang menuturkan bahasa Bidayuh. Karena nenek moyang orang Tengon berasal dari daerah di sepanjang aliran sungai Sekumba yang berhulu di pegunungan Tamong, Sungkung dan dataran tinggi sekitarnya. Menurut mereka, bahwa nenek moyang orang Tengon berasal dari negeri Cina. Kerabat serumpun mereka adalah orang Dayak Sempatung, orang Dayak Sungkung dan beberapa kelompok sub-suku Bidayuh di sekitar wilayah pemukiman suku Dayak Tengon.

Sekitar tahun 1700-1800 Masehi, Lim Thok Khian berlayar dari negerinya di provinsi Quang Dong menuju ke Asia Tenggara. Sampailah rombongan ini di Kalimantan, tepatnya di daerah Kalimantan Barat sekarang, di sekitar kabupaten Sambas. Menurut mereka istilah sambas berasal dari bahasa Cina, yaitu sam nyiaan. Sam artinya "tiga" dan nyiaan artinya "suku". Jadi diartikan menjadi "tiga suku", dan kata sambas berarti "tiga bangsa".
Rombongan pertama yang datang ini semuanya laki-laki. Sekelompok dari mereka menetap di kabupaten Sambas dan kawin dengan penduduk asli, yaitu orang dayak (Jackson, 1970). Sedangkan kelompok lain mudik ke hulu menelusuri sungai Sambas, masuk ke sungai Kumba menuju ke Seluas dan menuju ke Sungkung. Di tempat ini mereka mengawini penduduk setempat dan beranak cucu. Keturunan mereka akhirnya menyebar ke Tengon, Sempatung, serta Bentiang. Sungai Kumba adalah sungai yang berhulu di pengunungan Niut. Keturunan dari Cina-Dayak (Pa Tong La), akhirnya berpindah dari Sungkung ke wilayahwilayah di sekitar Gunung Niut, seperti di Tengon, Bentiang dan Sempatung.

Dari bukti-bukti yang ada saat ini, menjelaskan bahwa suku Dayak Tengon, diperkirakan adalah keturunan dari bangsa Cina, dengan bukti adanya adalah sebuah Gong asal Negeri Cina yang merupakan warisan untuk anak cucunya. Nama gong tersebut adalah Baneh. Sekarang, keturunan Lim Thok Khian ini sudah sampai pada keturunan yang ke delapan.

Berikut urutan keturunan Lim Thok Khian, berasal dari Thongsan China.
*Lim Thok Khian memperanakkan Lim Tonal.
*Lim Tonal memperanakkan Lim Tai Yut.
*Lim Tai Yut memperanakkan Lim Nyan.
*Lim Nyan memperanakkan Lim Kawek.
*Lim Kawek memperanakkan Ipan.
*Ipan memperanakkan Tabi.
dan seterusnya keturunannya menjadi atau berbaur dengan beberapa kelompok suku dayak seperti suku Dayak Tengon, suku Dayak Sungkung, suku Dayak Sempatung dan sebagian kecil lain keturunan berbaur dengan suku Dayak Bentiang.

sumber:
kebudayaan-dayak.org

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Jadiri  tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 DEWAN BREBES
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS bess travel Brebes 4