Masjid Kuno Mangga Dua Terdapat Makam Tumenggung Anggakusumah Bupati Batulayang

Masjid Kuno Mangga Dua Terdapat Makam Tumenggung Anggakusumah Bupati Batulayang Ismet spn

JAKARTA, - Kawasan Mangga Dua, Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan ternyata memiliki banyak peninggalan bersejarah. Salah satunya masjid kuno yang dibangun abad ke-19 bernama Nurul Abrar. Masjid ini didirikan sejak 1841 dan masih menyisakan mimbar dan beberapa pilar aslinya.

Masjid ini ramai dikunjungi karena di dalamnya terdapat makam keramat. Ada 12 makam di areal masjid ini.
Masjid Nurul Abrar baru satu kali direnovasi, yakni pada 1986. Sayangnya, kondisi masjid kuno tersebut tidak terawat dengan baik. Di antaranya adalah tiang penyangga masjid yang mulai rusak.

Mangga Dua merupakan kawasan pecinan di Batavia yang masyhur selain di kawasan Glodok adalah wilayah Mangga Dua. Zaman VOC berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah permukiman bagi pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kastel Batavia.
Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia.

Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua.
Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao atau daratan China untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan.

Ketika JP Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kastel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat China bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang China.
Selain makam Sayyid Abu Bakar atau dikenal dengan Habib Jamallulail, di Masjid Nurul Abrar juga terdapat beberapa makam ulama dari Hadramaut (Yaman) dan makam Sultan Bone.

Selain itu, terdapat juga pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein China pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen.
Di masjid ini juga terdapat makam kerabat keraton dari Jawa Barat, Seperti Raden Tumenggung Anggakusumah.
Latar Belakang Makam Tumenggung Anggakusumah di Buang Ke Batavia

Suatu ketika Tuan Gubernur Jenderal melakukan pemeriksaan ke daerah Priangan. Mula-mula Ia memeriksa daerah Indramayu, Sumedang, Limbangan, Parakan Muncang dan Bandung. Kemudian Gubernur Jenderal berencana untuk memeriksa Kabupaten Batulayang setelah menginap di Bandung. Ia kemudian memerintahkan untuk dilakukan penyambutan saat tiba di Gajah.

Pada saat itu untuk mencapai ibu kota Kabupaten Batulayang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan jalur transportasi sungai. Biasanya penyambutan akan dilakukan di daerah Cilampeni namun ketika Gubernur Jenderal tiba tidak ada rombongan penyambutan.
Gubernur Jenderal dengan disertai Bupati Bandung kemudian mendatangi ibu kota Batulayang untuk memeriksa apa gerangan yang terjadi, tetapi ketika sampai di ibu kota kabupaten dalam keadaan sepi. Penduduk yang berada di pendopo dan di daerah kaum semua tertidur.

Bupati Batulayang kemudian dibangunkan dan diminta menemui Gubernur Jenderal yang telah menunggu di pendopo. Bupati Batulayang membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapkan diri menemui Gubernur Jenderal yang semakin marah karena harus menanti.
Ketika Bupati Batulayang datang menghadap Gubernur Jenderal kemudian bertanya apa yang menyebabkan seluruh penduduk tidur dan tidak ada rombongan penyambutan bagi dirinya. Menurut Bupati Batulayang kota dalam keadaan sepi karena penduduknya semua terjaga hingga larut malam bahkan sebagian ada yang minum-minum hingga mabuk.

Mendengar penjelasan tersebut Gubernur Jenderal kemudian menjatuhkan hukuman bagi Kabupaten Batulayang. Hukuman tersebut berupa dileburnya wilayah Kabupaten Batulayang ke dalam Kabupaten Bandung. Pejabat-pejabat Kabupaten Batulayang kemudian menjadi bawahan dan bekerja bagi Bupati Bandung. Sedangkan keturunan Bupati Batulayang dijadikan Patihan Bandung secara turun-temurun mulai saat itu.

Peristiwa penggabungan Batulayang dengan Bandung menurut naskah Babad Bupati Bandung terjadi pada tahun 1802 - sama seperti yang ditulis oleh F. de Haan. Sedangkan alasan pembubaran Kabupaten Batulayang de Haan terjadi karena perangai Tumenggung Anggadikumsumah berperilaku buruk dan boros. Bahkan untuk Bupati Batulayang tersebut dijatuhkan hukuman buang ke Batavia hingga meninggal dan dikuburkan di daerah Mangga Dua.

Babad Bupati Bandung mencatat alasan Bupati Batulayang Tumenggung Anggadikusumah menerima keputusan ini karena menurutnya keluarga Bupati Bandung adalah masih saudaranya sendiri dari hubungan perkawinan yang terjadi antara dua keluarga Bupati ini.

Oleh : Dedi Kusmayadi, Paguyupan Kebudayaan Kecamatan Sumedang Utara.

Editor: wry

Bagikan melalui:

Komentar