Makom Syekh Arief Muhammad Di Kampung Pulo Kawasan Candi Cangkuang Garut

Makom Syekh Arief Muhammad Di Kampung Pulo Kawasan  Candi Cangkuang Garut Ismet spn Dedie Kusmayadi, Penata Kamantren Keraton Sumedang Larang

GARUT, - Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk setempat, kami mendapat informasi penting bahwa Mbah Dalem Arief Muhammad adalah leluhur mayoritas masyarakat Kampung Pulo. Karenanya, penduduk setempat menyebut Arief Muhammad “Eyang Mbah Dalem Arief Muhammad”.

Berdasarkan penelusuran silsilah beliau yang kami temukan di museum Cangkuang, beliau masih keturunan Nabi Muhammad saw dari putri beliau Sayyidah Fatimah Zahra (Ratu Fatimah) yang hidup sekitar abad ke-9 M atau sekitar tahun 800-an Masehi. Artinya, kurang lebih 200 tahun setelah wafatnya Rasul saw. Itulah sebabnya kita tidak akan pernah menemukan tokoh ini didalam daftar penduduk yang dibuat pemerintah kolonial tahun 1625 karena beliau hidup sekitar tahun 800-an.

Posisi makam Syekh Arief Muhammad di Kampung Pulo terletak pada dataran paling tinggi, yang menandakan semasa hidupnya beliau adalah orang yang disegani. Berdasarkan silsilah yang kami dapatkan dari penduduk setempat dan kisah turun temurun, penduduk kampung Pulo masih keturunan Arief Muhammad.

Bila menurut silsilah ini, Syekh Arief Muhammad adalah keturunan ke-8 dari Rasulullah saw, dari cucu beliau Imam Husen yang berputra Imam Ali Zaenal Abidin atau Seh Jenal Abidin berputra Seh Mashur berputra Seh Masajid berputra Sultan Arif berputra Sultan Seh Maulana Maghribi berputra Sultan Arif Muhammad, sultan Arif Muhammad inilah yang dikatakan sebagai Eyang Mbah Dalem Arif Muhammad.

Dalam urutan silsilah akan terlihat bahwa Syekh Arief Muhammad hidup sekitar tahun 800-an Masehi, yang artinya beliau hidup dan memimpin wilayah Cangkuang dan sekitarnya kurang lebih 1200 tahun yang lalu! Dan yang terpenting adalah dengan penelusuran tokoh Arief Muhammad ini, melalui silsilah yang ada kita mengetahui bahwa 1200 tahun yang lalu Islam telah menjadi agama resmi wilayah ini dengan dengan tokoh wali-wali muslim sebagai pemimpinnya. Jabatan kepemimpinan ini dapat dilihat dari gelar Almarhum yang sudah melekat dengan nama beliau, seperti yang kami temukan di wilayah ini, gelar Dalem, Sunan dan sebagainya.

Untuk mengetahui masa hidup beliau, karena Mbah Dalem Arief Muhammad masih keturunan Rasulullah saw, melalui silsilahnya kami membandingkannya dengan keturunan Rasulullah yang lain juga menjadi Imam besar bagi para pengikut ajaran keluarga nabi pada masanya, yaitu Imam Muhammad al Jawad yang hidup tahun 817 M-842 M.

Berikut adalah urutan perkiraan tahun dari nama yang kami peroleh dari silsilah Dalem Arif Muhammad di atas :
1. Muhammad Rasulullah SAW 570 - 632 M
2. Fatimah (605 - 632 M) + Sayidina Ali kw (600 - 661M)
3. Imam Husen (625 M - 681 M) [1]
4. Seh Jenal Abidin (Imam Ali Zaenal Abidin 658 - 713 M)
6. Seh Mashur (salah seorang putra dari imam Ali Zaenal Abidin, hidup satu masa dengan Imam Muhammad al Bagir-juga salah seorang putra Imam Ali Zaenal Abidin yang hidup pada tahun 676 - 732 M)
7. Seh Masajid (satu masa dengan putra imam Muhammad al Bagir ; Imam Ja’far as Shadiq yang hidup pada tahun 702 - 765 M)
8. Sulthan Arif (satu masa dengan putra imam Ja’far as Shadiq ; Imam Musa al Kadhim yang hidup pada tahun 750 - 805 M)
9. Sulthan seh Maulana Maghribi (satu masa dengan putra Imam Musa al Kadhim ; Imam Ali ar Ridho yang hidup pada tahun 770 M-825 M)
10. Sulthan Arif Muhammad (satu masa dengan putra Imam Ali ar Ridho; Imam Muhammad al Jawad yang hidup pada tahun 817 - 842 M.

Selain makam Arif Muhammad, di Kampung Pulo ini juga terdapat ratusan makam kuno lain yang tersebar di berbagai wilayah di Kampung Pulo ini. Dan seperti pada umumnya pemakaman pada masa itu, setiap makam memiliki bangunan makam atau cungkup makam yang berbentuk persis sama dengan yang kita kenal sebagai Candi sekarang. Bangunan makam atau cungkup makam ini pada umumnya terbuat dari bata atau batu andesit atau yang lebih dikenal dengan batu candi atau batu alam yang terdapat di sekitar lokasi makam.

Penduduk nusantara pada masa lalu adalah bangsa yang sangat menghargai leluhurnya. Meskipun nenek moyang nereka telah berpulang, mengunjungi makam atau berziarah ke makam leluhur adalah suatu ritual istimewa yang diselenggarakan dari mulai golongan para pemimpin hingga rakyat biasa, tradisi ini melambangkan tradisi ajaran Millah Ibrahim atau agama Brahmanik.

Ketika mayoritas penduduk negeri ini telah memeluk Islam tradisi ini tetap berjalan karena tradisi ziarah tidak BERTENTANGAN dengan ajaran Islam. Pentingnya tradisi ziarah bagi bangsa Indonesia telah menjadikan pemakaman sebagai tempat ibadah untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan dengan tradisi ziarah mengingatkan manusia akan kefanaan dirinya.

Pemakaman di nusantara memiliki lokasi dan bangunan khusus yang mendukung ritual berziarah tetap terlaksana, ketika Islam telah menyebar dikalangan penduduk nusantara bangunan makam menjadi satu bagian dengan bangunan Masjid. Salah satu bangunan khusus yang hingga kini masih terjaga adalah fakta bahwa hampir setiap makam kuno di nusantara memiliki bangunan makam atau cungkup makam atau bekas-bekas cungkup makam, seperti gambar makam Sunan Pangadeggan ini.

Oleh :  Dedie Kusmayadi (Peneta Kamantren Keraton Sumedang Larang)



Editor: wry

Bagikan melalui:

Komentar