background img
bank bjb
Catatan Rudi Tentang GURU NGARIKSA #9

Seniman PGPB yang menampilkan lukisannya dalam PGPB Art Exhibition 2019 di SMPN 7 Bandung (Foto: Asep Ruslan)

PGPB Art Exhibition 2019

Catatan Rudi Tentang GURU NGARIKSA #9

BANDUNG - Dengan mengandalkan  bahwa seni bukan hanya melulu bicara estetika, tetapi juga bisa bicara etika, norma, tepat guna, adaptasi dan seterusnya. Maka dapat dikatakan pameran PGPB (Perkumpulan Guru Pelukis Bandung) merupakan persinggungan kongkrit antara pendidikan dan seni dilapangan, dalam pemahaman mainstream. Karena para peserta rata-rata merupakan guru seni budaya dari berbagai sekolah menengah. Kita tidak bisa mensejajarkan kapasitas peserta secara perseorangan, mungkin itu bisa dibedakan dari pengalaman, jam terbang atau bagaimana mereka menyikapi pola berkesenian ditengah jam mengajar dan rutinitas sekolah yang menyita konsentrasi, atau jaringan pergaulan, sehingga memunculkan keragaman berjenjang.

Sekali lagi, dengan tidak mengutamakan pencapaian estetik, kehadiran PGPB merupakan perkumpulan yang sebenarnya strategis dan bisa sangat politis (karena sudah merupakan ekosistim yang menggurita), karena sebagai pendidik, notabene mediator perubahan peradaban (agent of change), PGPB bisa melahirkan statement atau manivesto tentang kerja kreatif, olah gagasan berbasis transformasi media melalui pendidikan. Dengan kata lain, seni yang dimunculkan bukan semata-mata hanya menjadi "craftman ship", tapi lebih menekankan bagaimana tumbuh apresiasi lebih dini, penghargaan pada gagasan sekaligus mengedepankan ide-ide (cita-cita) melalui media seni. Seni bertransformasi, adaptif pada passion, karena ketika mereka mengajari murid-muridnya, tidak semua berbakat seni.

Undangan pembukaan pameran PGPB Art Exhibition 2019 di SMPN 7 Bandung (Foto: Asep Ruslan)

Pernyataan di atas disampaikan Rudi Setia Dharma selaku Mentor Pameran PGPB Ke 9 yang berlangsung 15 Agustus - 20 September 2019 di SMPN 7 Jalan Ambon No. 23 Bandung dengan Tema GURU NGARIKSA #9.

“Tapi sebagai individu/pekerja seni, guru yang terlibat dalam PGPB, harus menghadapi konsekwensi pameran diruang publik heterogen, maka seharusnya PGPB bersikap profesional, punya kesadaran untuk lebih mempersiapkan memicu, memacu, bukan sekedar tampil, tapi full packaging dari hulu kehilir meminimalisir kegagalan dalam pencapaian estetik dan bagaimana menterjemahkan tema yang ditawarkan, agar tidak ada alasan bahwa karena guru boleh 'kurang'. Seperti tema ‘GURU NGARIKSA’ (terjemahan bebas): Mengedepankan konsekwensi guru sebagai makhluk sosial ditengah polemik eksistensi diri sekaligus harus menjadi suri tauladan tentang nilai, dan faktor eksternal yang seringnya terjebak pada sloganis, stereotype, protokoler, pengetahuan yang tidak seimbang dengan perkembangan pengetahuan yang menjadi gaya hidup, "basic needed", yang melibatkan siswa didik, orang tua dan publik umum,” terang Rudi di SMPN 7 Bandung, Kamis (15/8/2019).

Selanjutnya kata Rudi.

“Masih butuh waktu untuk menyelaraskan, menyelerasikan visi kenapa PGPB didirikan dan kenapa pameran menjadi penting. #9 tahun PGPB adalah pertarungan, pertaruhan pencapaian baik perorangan, atau kelompok atau kolektif yang dibangun ekosistemnya, karena hal itu bisa berkembang jika bisa memahami belajar itu tidak berbatas,” tambahnya.

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 Brebes 4