background img
bank bjb
Anak Penarik Becak Raih Gelar Doktor di Usia 27 Tahun

Lailatul Qomariah (27) anak tukang becak peraih gelar Doktor Teknik Kimia di ITS Surabaya, lulus sempurna IPK 4.0 saat Live CNN Indonesia di TransTV, Senin (16/9/2019)/Asep Ruslan.

Raih Nilai Sempurna IPK 4.0

Anak Penarik Becak Raih Gelar Doktor di Usia 27 Tahun

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d ayat 11).

PAMEKASAN - Lailatul Qomariah walaupun terlahir dari keluarga miskin tidak membuat minder. Di usia 27 tahun satu bulan, anak sulung penarik becak Saningrat (43) dan pasangannya Rusmiati (40), asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, telah meraih gelar Doktor Teknik Kimia di Fakultas Tekhnologi Industri ITS Surabaya, lulus dengan nilai sempurna IPK 4.0.

Lailatul Qomariyah menyelesaikan S2 hanya dalam waktu 3 bulan. Setelah lulus S2 program Fast Track, kembali mendapatkan beasiswa melalui Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU).

Disertasinya tentang aplikasi silika untuk solar sel yang berjudul "Controllable Characteristic Silica Particle and ITS Composite Production Using Spray Process", berhasil dipertahankan di hadapan para pengujinya pada Rabu (4/9/2019).

Dari 80 mahasiswa lebih yang mengikuti program doktoral, hanya Lailatul Qomariyah yang siap mengikuti sidang terbuka dan dinyatakan lulus dengan nilai sempurna IPK 4.0.

Laila, sapaan akrabnya, juga satu-satunya mahasiswa di kampusnya yang mampu menyelesaikan kuliah secara singkat, dari jenjang S2 ke S3, hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Simak Video Kiat Sukses Dari Lailatul Qomariah:

Dilansir dari Kompas.com, Laila menceritakan perjalanan akademiknya yang tergolong cukup singkat. Setelah lulus dari SMAN 1 Pamekasan tahun 2011, Laila melanjutkan ke ITS Surabaya setelah berhasil meraih beasiswa.

Lulus S1 Fakultas Tekhnologi Industri, Laila kemudian melanjutkan ke program pasca sarjana S2 di fakultas yang sama. Di jenjang ini, perempuan yang selalu meraih ranking 1 sejak SD hingga SMA ini, hanya menjalani studi selama tiga bulan melalui program Fast Track.

"Selama S2, ada target IPK harus 3,5 jika mau dinyatakan lulus dalam program fast track. Alhamdulillah, IPK saya melampaui ketentuan itu karena IPK saya 4.0 sehingga S2 saya hanya tiga bulan," terang Laila, Minggu (8/9/2019).

Perempuan yang punya hobi nonton debat berbahasa Mandarin di tv ini kembali menceritakan, setelah lulus S2 program Fast Track, Laila kembali mendapatkan beasiswa melalui Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU).

Dari teman-teman satu angkatannya, hanya Laila seorang yang bisa mendapatkan PMDSU dari Kementrian Riset dan Tekhnologi Pendidikan Tinggi.

Masuk sebagai mahasiswa program doktoral, Laila langsung mendapatkan beasiswa untuk melakukan riset ke Jepang dalam rangka persiapan riset disertasi yang diajukannya, tentang pemanfaatan aplikasi silika solar sel sebagai pengganti energi yang dihasilkan dari minyak bumi dan batubara.

Di Jepang, Laila tinggal sendirian dari tahun 2017 sampai 2018, karena hanya dirinya satu-satunya mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

"Happy saja meskipun sendirian di Jepang. Ini semata-mata untuk mencapai cita-cita dan demi ilmu pengetahuan," ujar perempuan kelahiran 16 Agustus 1992.

Pulang dari Jepang, kakak kandung dari Ruslan Hamadani dan Maulidi Cahyono ini, langsung menuntaskan disertasinya.

Dua profesor doktor yang menjadi promotor Laila, dan lima penguji dalam sidang terbuka, telah meluluskan Laila.

"Cukup bahagia karena perjuangan dan cita-cita saya untuk meraih pendidikan yang tertinggi bisa terwujudkan," ungkap dia.

Lailatul Qomariah dan ayahnya Saningrat saat Live CNN Indonesia di TransTV, Senin (16/9/2019)/Asep Ruslan.

Laila, yang hingga kini masih menjadi asisten dosen di kampusnya, punya tips belajar agar bisa sukes. Di antaranya, lebih banyak waktu dan kesempatan untuk belajar daripada menyia-nyiakan waktu untuk main-main. Ketika di kampus, mulai jam 7 pagi dan baru pulang jam 11 malam.

"Selain berlajar yang tekun, jangan lupa berdoa. Doa juga orangtua lebih penting daripada doa kita sendiri," ucap dia.

Laila berpesan kepada pelajar yang sedang menempuh pendidikan, agar jangan mudah pasrah kepada keadaan. Baik keadaan ekonomi ataupun kemampuan pribadi.

Baginya, orang miskin sama-sama memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Tidak ada orang bodoh jika keinginan untuk belajar sangat kuat.

"Kata siapa orang miskin tidak bisa sukses? Saya sudah membuktikannya. Ayah saya tukang becak dan ibu saya buruh tani. Namun, tekad yang kuat untuk mengangkat martabat kedua orangtua saya, saya menjawabnya dengan prestasi pendidikan," ujar dia.

Saningrat (43) penarik becak ayah kandung Lailatul Qomariah saat Live CNN Indonesia di TransTV, Senin (16/9/2019)/Asep Ruslan.

Saningrat, ayah Laila mengaku sangat bangga dengan anak sulungnya. Untaian doa setiap waktu dan deraian air mata, menjadi persembahan terbaik untuk anaknya.

Sebab, sejak Laila menempuh pendidikan di ITS, dirinya tidak banyak membantu dari segi pembiayaan. Laila sudah mandiri sejak masih SMA hingga ke perguruan tinggi.

"Seingat saya, biaya yang saya keluarkan hanya untuk membelikan dia sepeda motor dan laptop. Selain itu, saya sudah tidak membiayainya karena Laila sudah mengaku mandiri," ungkap Saningrat.

Berita Lainnya
hari Jadi tegal Hari Jadi tegal Hari Jadi tegal BJB IKLAN
sinar pagi news h idulfitri Hari Jadi Tegal Hari jadi Tegal 5 KAPOLRI RAMADAN
IKLAN SALES MOTOR Radio thomson tegal Kejari babel iklan colombus 2
purwakarta kab COLUMBUS MINICON1 Brebes 4