background img
bank bjb 1
Kisah 3 Murid Tjokroaminoto Pelopor Ideologi Bangsa

Tiga Murid HOS Tjokroaminoto. Foto: Doc Net.

Mengupas Sejarah Kemerdekaan dan ideologi.

Kisah 3 Murid Tjokroaminoto Pelopor Ideologi Bangsa

HAJI Oemar Sa'id (HOS) Tjokroaminoto adalah pemimpin Sarekat Islam dengan beranggotakan hampir 3 juta ummat pada waktu itu. Tepatnya, pada tahun 1911, dimana saat itu Indonesia berada dalam penguasaan pemerintah kolonial Belanda.
 
Saat itu, HOS Tjokroaminoto memiliki 3 murid yang sangat fenomenal bagi pergerakan kebangsaan sebelum merdeka dialah Soekarno, Semaoen dan Kartoesoewirjo. Ketiga murid itu berperan kuat sangat menonjol membawa gerakan Ideologi setelah mereka dewasa.
  
Ketiga pelopor tokoh ideologi bangsa ini yang merupakan murid HOS Tjokroaminoto itu adalah pintu gerbang yang mewarnai kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia.
  
Jauh sebelum mereka memilih jalan hidup dan pola gerak yang berbeda dalam memerdekakan Indonesia ini, saat itu Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo  pernah tinggal bersama dalam didikan Pimpinan Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto.
 
Menurut karangan biografi Cindy Adams, disebuah jalan kecil bernama Gang Paneleh VII bernomor 29-31, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, disitulah rumah HOS Tjokroaminoto berada dan memiliki rumah kos yang dihuni oleh murid-muridnya tersebut.
 
Merekalah diantara para alumni rumah kos yang kemudian menjadi tokoh pergerakan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan.
 
Menginjak peran gerakan mereka semakin dewasa, kemudian saat itu Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Semaoen, Alimin, dan Musso menjadi tokoh-tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI) serta SM Kartosoewirjo meneruskan perjuangan Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
 
____________
SOEKARNO
 
Dilansir salah satu media Nasional beberapa tahun lalu, menurutnya, Soekarno 'mondok' di rumah Tjokroaminoto pada usia 15 tahun. Ayah Soekarno, Soekemi Sosrodihardjo, menitipkan Soekarno yang melanjutkan pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Saat itu, tahun 1916, Tjokroaminoto sudah menjadi Ketua Sarekat Islam, organisasi politik terbesar dan yang pertama menggagas nasionalisme.
 
Dalam salah satu biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengenang Tjokroaminoto sebagai idolanya. Dia belajar tentang menggunakan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat.
 
Dia belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Namun, Soekarno memerankan pergerakan ideologi kebangsaanya mengarah kepada Nasakom Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (disingkat: Nasakom) adalah konsep politik yang dicetuskan oleh Soekarno di Indonesia, serta merupakan ciri khas dari Demokrasi Terpimpin.
 
Pada tahun 1956, Soekarno secara terbuka mengkritik demokrasi parlementer, yang menyatakan bahwa itu "didasarkan pada konflik inheren" yang berlawanan dengan gagasan harmoni Indonesia sebagai keadaan alami antar hubungan manusia. Sebaliknya, ia mencari sistem yang didasarkan pada sistem desa tradisional dengan mengedepankan diskusi dan konsensus, dibawah bimbingan para tetua desa. Ia mengusulkan campuran antara tiga unsur yakni; nasionalisme, agama, dan komunisme menjadi pemerintahan kooperatif yang disingkat 'Nas-A-Kom'.
 
Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan tiga faksi utama dalam politik Indonesia ketika itu, yakni - tentara, kelompok-kelompok Islam, dan komunis. Dengan dukungan dari militer, pada bulan Februari 1956, ia menyatakan 'Demokrasi Terpimpin', dan mengusulkan kabinet yang akan mewakili semua partai politik penting (termasuk PKI).
 
Gagasan Nasakom sudah dicetuskan Soekarno sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1927, ia menulis rangkaian artikel berjudul "Nasionalisme, Islam, dan Marxisme" dalam Indonesia Moeda, sebuah publikasi terbitan "Klub Studi Umum", klub yang didirikan Soekarno dan rekan-rekannya di Bandung. Dalam artikel tersebut, Soekarno mendesakkan pentingnya sebuah persatuan nasional kaum nasionalis, Islamis, Marxis dalam perlawanan tanpa kompromi (non-kooperatif) terhadap Belanda.[5]
 
Sejak awal perjuangan kemerdekaan Indonesia, sudah dikenal tiga aliran politik yang mewarnai berbagai organisasi pergerakan zaman itu. Sebagai contoh Indsche partij dan Sarekat Hindia yang “Nasionalis”, Sarekat Islam yang berideologi islam, dan kemudian ISDV/PKI yang berideologi marxisme.
 
“Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, inilah azas-azas yang dipegang teguh oleh pergerakan-pergerakan rakyat diseluruh Asia. Inilah faham-faham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini,” kata Sukarno.[6]
 
Saat memberi amanat di Sidang Panca Tunggal Seluruh Indonesia, di Istana Negara, pada 23 Oktober 1965, Soekarno menyebut dirinya sebagai perasan dari Nasakom. “Ik ben nasionalist, ik ben islamiet, socialist. Tiga in one. Three in one, Soekarno. Lain kali disini, dimuka Istana merdeka saya pernah berkata, aku adalah perasan dari pada Nasakom”.
 
Pada tahun 1960, Soekarno memperkenalkan konsep Pancasila kepada dunia dalam pidatonya yang terkenal di hadapan Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Judulnya: To Build The World a New. Dia menawarkan prinsip toleransi Pancasila diterapkan bagi perdamaian dunia dan dijadikan sebagai Ideologi, yang ketika itu sedang terpecah antara blok Barat dan blok Timur. Soekarno menawarkan sebuah konsep tata dunia yang baru.
 
Soekarno ketika itu merangkum konsepsi politiknya sebagai NASAKOM: Nasionalisme, Agama, Komunisme. Pemahaman Komunisme disini adalah sebagai Sosialisme, karena dasar pemikirannya adalah prinsip keadilan sosial, yang juga menjadi dasar pemikiran politik Karl Marx. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nasakom)
 
_____________________
SM KARTOSIEWIRJO
 
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo muda mulai tertarik pada dunia pergerakan saat bersekolah di Nederlandsch Indische Artsen School atau biasa disebut Sekolah Dokter Jawa yang berlokasi di Surabaya pada 1923. Dia gemar membaca buku-buku milik pamannya, Mas Marco Kartodikromo yang sebagian besar buku beraliran kiri dan sosialisme, beliau membaca dan mendalami bagaimana faham kiri komunisme dan sosialisme, sehingga menurut Kartosoewirjo disalah satu buku karya al Khaidar, faham komunisme tidak selaras dengan nilai-nilai agama yang ia fahami setelah diajari oleh HOS Tjokroaminoto. 
 
Marco dikenal sebagai wartawan dan aktivis Sarikat Islam, namun beraliran merah. Selain itu, Kartosoewirjo terjun ke politik bergabung dengan Jong Java dan kemudian Jong Islamieten Bond.
 
Guru utamanya di dunia pergerakan sekaligus guru agamanya adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Kartosoewirjo begitu mengagumi dan terpesona dengan Tjokroaminoto yang sering berpidato dalam berbagai pertemuan. Saat itu, Kartosoewirjo melamar menjadi murid dan mulai mondok di rumah Ketua Sarekat Islam itu di Surabaya.
 
Untuk membayar uang pondokan, Kartosoewirjo bekerja di surat kabar Fadjar Asia milik Tjokroaminoto. Ketekunan dan kecerdasan membuatnya menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto hingga beliau diamanahi menjadi penanggung jawab surat kabar Fadjar Asia.
 
Tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda menjadi ciri khas Kartosoewirjo. Dalam artikelnya tampak pandangan politiknya yang kental dengan kebesaran Agama terutama Islam. Dia juga sering mengkritik pihak nasionalis yang tidak jelas meberapkan nilai Ideologi.
 
Pada masa kemerdekaan, tepatnya 1945-1949, dimana Idonesia terjadi perang Agresi Militer yang semestinya pasca proklamasi itu Indonesia sepenuhnya merdeka justru terjadi perang yang menyebabkan pertempuran yang cukup dasyat akibat Agresi itu.
 
Saat itu, Kartosoewirjo terlibat aktif dan bersikap keras terhadap pemerintah Indonesia karena kebijaka-kebijakan yang tidak mengarah terhadap kemerdekaan sejati. Bahkan, saat itu kedaulatan Indonesia hanya dikuasai sedaerah Yogyakarta setingkat 9 keresidenan.
 
Mensikapi hal itu, menurutnya, demi menyelamatkan kemerdekaan Indonesia dengan ideologi Islam yang dipertegas saat itu melalui gerakan Partai Sarekat islam Indonesia (PSII) kemudian melalui Majelis Syuro Muslimin (Masyumi) sebagai petinggi di Jawa Barat mengadakan konferensi Cisayong pada tahun 1948 tepatnya dibulan awal February dengan para tokoh-tokoh partai islam kemudian membulatkan tekadnya untuk membentuk Tentara Islam Indonesia dan Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan pada 7 Agustus 1949. Saat itu, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh bergabung dengan prinsif Ideologi Islam.
 
Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika dilakukan Pagerbetis (Pasukan Gerakan Beratas Tentara Islam) dan aparat keamanan menangkapnya di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Soekarno yang menjadi presiden, teman kosnya semasa di Surabaya, adalah orang yang menandatangani eksekusi mati Kartosoewirjo pada September 1962.
 
___________
SEMAOEN
 
Semaoen adalah Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama. Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) wilayah Surabaya.
 
Pertemuannya dengan Henk Sneevliet tokoh komunis asal Belanda pada 1915, membuat Semaoen bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) cabang Surabaya.
 
Aktivitasnya yang tinggi dalam dunia pergerakan membuatnya berhenti bekerja perusahaan kereta Belanda. Saat pindah ke Semarang, dia menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang.
 
Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda.
 
Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
 
PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921.
 
Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.
 
 
 
Penulis :
Dimas Madia (Pemimpin Redaksi Sinarpaginews.com)
 
Sumber :
- Buku dan Biografi karya Cindy Adams
- https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nasakom
- Buku Karya Alkhaidar
Berita Lainnya
PDAM bdg2 Beebopp pa erwin ASEP PRESIDEN purwakarta 2