Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD)

TFT Pendampingan Anak & Trauma Healing Penyintas Bencana Tanah Longsor Sumedang

TFT Pendampingan Anak & Trauma Healing Penyintas Bencana Tanah Longsor Sumedang wry Asep Ruslan Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD) saat memberikan materi (Dok. Arjuna)
KABUPATEN SUMEDANG - Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD) Asep Ruslan yang akrab disapa Kang Presiden, menjadi narasumber Training For Trainer (TFT) Pendampingan Anak & Trauma Healing Penyintas Bencana Tanah Longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Persatuan Umat Islam (PD PUI) Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat di SDIT Khairu Ummah Perum Griya Jatinangor 2 Tanjungsari Kabupaten Sumedang, Minggu (24/1/2021).

Lokasi tempat pelatihan TFT (Dok. Arjuna)

Dalam paparan materi yang disampaikan dengan tema “Kearifan Lokal Budaya Sunda Dalam Mitigasi Bencana” , Kang Presiden mengatakan, apabila dikaji lebih mendalam kearifan lokal budaya Sunda dapat menghasilkan sebuah sistem mitigasi  bencana seperti tanah longsor dan banjir.

“Ada lima tempat di Jawa Barat yang kearifan lokalnya dapat dijadikan mitigasi bencana yaitu Kanekes (Banten), Cipta Gelar (Sukabumi), Kampung Naga (Tasikmalaya), Kampung Kuta (Ciamis) dan Pangandaran,” kata Asep Ruslan yang juga Anggota MPKA RIMBAWAN, salah satu organisasi Pencinta Kelestarian Alam dan Konservasi Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti (UNWIM).

Poster Kegiata pelatihan Training Pendampingan Anak & Trauma Healing (Dok. Arjuna)

Kearifan lokal budaya Sunda yang dapat dijadikan Mitigasi Bencana menurut Kang Presiden, diantaranya bangunan rumah bambu, tata ruang zonasi penggunaan lahan skala mikro dan pengelolaan hutan lestari ramah lingkungan.

“Hancurnya ribuan rumah akibat gempa magnitudo 6,2 yang terjadi Jumat (15/1/2021) pukul 01.28 WIB di Provinsi Sulawesi Barat menyebabkan 81 orang meninggal, 70 orang di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majene. Dimana 1.150 rumah rusak dan 15 unit sekolah terdampak. Kembali memunculkan pertanyaan desain rumah seperti apa yang tahan gempa? Berbagai alternatif rumah ditawarkan, dan salah satunya penggunaan bambu sebagai pengganti beton dan komponen utama dalam bangunan yang tahan gempa,” ujarnya.

Rumah bambu yang merupakan rumah adat Sunda, jika dirancang dengan benar dapat bertahan hingga 20 tahun. Rumah bambu memiliki sifat tahan terhadap guncangan dan sifat lentur serta fleksibel. Jika terjadi guncangan, rumah bambu dapat melindungi orang-orang yang berada di dalamnya. Berbeda dengan rumah konvensional yang akan ambruk, lebih mudah berjatuhan dan mengenai orang yang berada di dalamnya.

“Rumah bambu dapat membuat suasana rumah menjadi sejuk karena bambu tidak menyerap panas, dan udara dengan bebas keluar masuk melalui celah-celah bambu. Rumah adat sunda ini, dapat dijadikan contoh rumah ramah lingkungan,” kata Ketua Dewan Pembina Asep Rescue Terjun Bencana (ARJUNA).

Tim ARJUNA, Ti Asep Ku Asep Keur Indonesia (Dok. Arjuna)

Kearifan lokal masyarakat adat  Sunda sudah memahami sistem alam dalam sistem tata ruang yang dibangun, agar lingkungan alam sekitarnya terpelihara secara optimal dan lestari untuk kesejahteraan warganya.

Konsep leuweung kolot, menurut Kang Presiden konsepnya mirip dengan hutan lindung yang sama sekali tidak boleh dimasuki orang. Leuweung Larangan mirip dengan hutan penyangga yaitu hutan yang dilarang dirambah atau dibuka tetapi masih boleh dimasuki seizin para ketua adat.

“Di Kanekes (Banten), leuweung larangan digunakan sebagai lokasi pemahaman para pu’un (ketua adat), sehingga menambah kewibawaan hutan. Anggota masyarakat adat tidak akan berani masuk hutan larangan karena sangat menghargai aturan. Leuweung Lembur merupakan hutan produksi yang dimanfaatkam penduduk menanam berbagai buah-buahan dan sumber pangan lainnya. Sawah berada di dekat permukiman, tetapi di bawah hutan lembur,” tuturnya.

Kang Presiden bersama Asep Kurniawan Direktur PUI Peduli Kemanusiaan/Ketua Panitia TFT (Dok. Arjuna)

Di Kampung Naga, drainase ditata sedemikian rupa sehingga tetap sehat. Air buangan dari limbah rumah tangga sebelum dibuang ke sungai, dijernihkan terlebih dahulu. Sekarang dikenal dengan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah).

Terkait perlunya kewaspadaan terhadap ancaman bencana khususnya gempa, sebaiknya kentongan (kohkol) difungsikan kembali sebagai peringatan dini.

“Pasalnya peralatan modern bernama Early Warning System (EWS) membutuhkan energi listrik yang berpotensi kadang ngadat atau rusak akibat efek goncangan ataupun hal teknis lainnya. Kentongan sudah membudaya di masyarakat, mudah didapatkan dan harganya terjangkau. Sehingga seluruh masyarakat dapat memilikinya. Dan melalui kentongan akan terjadi satu jaringan informasi yang positif antar masyarakat, disamping kentongan bisa juga filter berbagai informasi Hoax yang simpang siur ditengah masyarakat,” terangnya.

Peserta pelatihan Training Pendampingan Anak & Trauma Healing (Dok. Arjuna)

Terkait evakuasi pertolongan pertama penanganan korban bencana alam, menurut kang Presiden  bisa menggunakan peralatan tradisional seperti membuat tandu dari kain sarung dengan kayu sebagai gagang tandu.

“Dalam kondisi darurat tidak mesti harus ada peralatan canggih untuk mengevakuasi korban. Yang harus terpikirkan, bagaimana caranya korban kritis secepatnya bisa diselamatkan. Sarung berfungsi juga melindungi penyintas dan relawan saat berada di pengungsian di saat cuaca dingin serta pelengkap saat beribadah atau sholat,” tuturnya.

Tidak menentunya cuaca akhir-akhir ini apalagi pandemi Covid-19 yang masih mengganas tentunya telah membawa dampak bagi semua pihak termasuk petani. Terkait pemaparan untuk mengaktifkan kembali sistem lumbung (Leuit), kang Presiden mengatakan dibutuhkan kerja sama dari semua pihak.

“Pemerintah bisa memberikan stimulus melalui program-program pemberdayaan petani baik berupa hibah, pelatihan, pendampingan, dan lain-lain. Petani mengelola sendiri atas dasar musyawarah tanpa rekayasa dan berdasar kebutuhan faktual mereka. Biarkan kearifan pangan kembali tumbuh di kalangan petani tanpa terkontaminasi oleh kepentingan bisnis para pemodal,” kata kang Presiden.

“Lumbung desa (leuit) melambangkan persatuan dan kesetiakawanan. Ada kesadaran dalam bermasyarakat yang membuat mereka rela menyumbangkan sebagian hasil kerja di lahan untuk disimpan di lumbung desa.  Nantinya, tak hanya digunakan untuk makan mereka sendiri, namun penyimpanan tersebut juga digunakan untuk membantu warga lain yang tengah kesulitan atau kekurangan pangan. Disinilah sikap bahu-membahu dan tolong menolong pun tercermin dalam sikap sehari-hari,” pungkas dosen Epidemiologi Bencana di STIKes Dharma Husada Bandung.

Editor: Asep Ruslan

Bagikan melalui:

Komentar