background img
bank bjb
Warga Desa Buahbatu Gelar Shalat Gerhana Matahari Cincin

Warga mendengarkan khutbah setelah selesai shalat kusuf di Masjid Al Amanah, Komplek GBI RW.07, desa Buahbatu, kec. Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (26/12/2019) (SPN/Asep Ruslan)

DKM Masjid Al Amanah GBI RW.07

Warga Desa Buahbatu Gelar Shalat Gerhana Matahari Cincin

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka (QS Ali Imran ayat 190-191).

BOJONGSOANG - Warga Desa Buahbatu Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat menggelar shalat gerhana matahari cincin, salah satunya di Masjid Al Amanah yang terletak di RW.07 Komplek Griya Bandung Indah (GBI), Kamis (26/12/2019).

Pelaksanaan shalat sunnah gerhana matahari (Kusuf) tersebut sesuai surat edaran dari Kementerian Agama yang mengimbau seluruh masjid melaksanakan shalat gerhana matahari.

Gerhana matahari cincin sebetulnya sama dengan gerhana matahari total karena tergolong gerhana sentral. Hal yang membedakan adalah matahari tertutup semua pada gerhana matahari total, sedangkan pada gerhana matahari cincin hanya sebagian. Bagian tepi matahari yang tidak tertutup bulan terlihat seperti cincin.

Pelaksanaannya menyesuaikan waktu gerhana matahari di wilayah masing-masing. Diperkirakan, kontak awal gerhana berkisar antara pukul 10:03 - 12.34 WIB, pertengahan gerhana pukul 11:49 - 13:51 WIB, dan akhir gerhana pada pukul 13:48 - 15:00 WIB.

Menurut informasi dari Surat Edaran Kementerian Agama tentang Gerhana Matahari Cincin, Pimpinan Persatuan Islam (PP PERSIS) menyampaikan hal sebagai berikut :

Gerhana matahari (Cincin dan Sebagian) akan teramati di tujuh Provinsi di Indonesia, antara lain Aceh (Singkil dan Simeulue); Sumatera Utara (Labuhanbatu, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Padang Sidempuan, Sibolga); Riau (Bengkalis, Rokan Hulu, Siak, Kepulauan Meranti); Kepulauan Riau (Karimun, Bintan, Tanjungpinang, Batam); Kalimantan Barat (Benkayang, Kapuas Hulu, Landak, Pontianak, Singkawang); Kalimantan Timur (Berau); Kalimantan Utara (Tanjung Selor).

Sehubungan dengan fenomena gerhana matahari tersebut, dianjurkan kepada seluruh jamaah untuk melaksanakan shalat untuk daerah khusus Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya, diatur mulai takbir pukul 11.00 WIB dan shalat Gerhana dilakukan Ba'da Zuhur.

Shalat Kusuf atau Shalat Gerhana Matahari dilakukan dua rakaat dengan rangkaian sebagai berikut: 

  1. Berniat di dalam hati;
  2. Takbiratul ihram seperti shalat biasa;
  3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat yang panjang dengan di-jahr-kan (perdengarkan) suaranya.
  4. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya; 
  5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal);
  6. Setelah I’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat yang panjang (berdiri yang kedua lebih singkat dari pertama).
  7. Ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;
  8. Bangkit dari ruku’ (i’tidal);
  9. Sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;
  10. Bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama (bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya);
  11. Tasyahud;
  12. Salam.

 

Warga mendengarkan khutbah setelah selesai shalat kusuf di Masjid Al Amanah, Komplek GBI RW.07, desa Buahbatu, kec. Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (26/12/2019) (SPN/Asep Ruslan) 

Shalat kusuf ini digelar selepas shalat Dzuhur dipimpim oleh imam Ustad Suwanto, diikuti ratusan jamaah laki-laki dan jamaah perempuan.

Setelah selesai shalat dilanjutkan dengan khutbah yang merupakan rangkaian dari shalat sunnah kusuf yang dihitung sebagai rakaat shalat.

Dalam khutbahnya, Ustad Suwanto mengatakan banyak hikmah yang dapat dipetik dari kejadian gerhana matahari cincin tersebut.

“Pada hari ini Allah telah menunjukkan kekuasaannya kepada manusia dengan peristiwa gerhana matahari hendaknya menjadi sebuah iktibar dan pelajaran bagi manusia, agar takut terhadap azab Allah dan meninggalkan perbuatan yang salah untuk melakukan amalan soleh,” ujarnya.

Ustad Suwanto saat menyampaikan khutbah terkait gerhana matahari di Masjid Al Amanah, Komplek GBI RW.07, desa Buahbatu, kec. Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis (26/12/2019) (SPN/Asep Ruslan)

Dalam QS. Al-Qashash ayat 88 Allah Swt berfirman: “… Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenangnya, dan kepada-Nya kamu dikembalikan."

“Dari ayat di atas, jelaslah bahwa kita tidak mungkin hidup selamanya di dunia ini, kita hanya singgah sementara. Semua yang ada di dunia akan binasa, kecuali Allah. Kita hanyalah makhluk yang dimiliki-Nya, begitu juga dengan dunia dan seisinya. Maka ketika Sang Pencipta menginginkan kita kembali, tidak ada daya apapun untuk menolak. Tak bisa ditunda barang sedetik pun,” tambahnya.

Hikmah berikutnya, gerhana matahari sebagai permisalan terhadap hal yang akan terjadi pada hari kiamat, dan hal ini sangat mudah bagi Allah, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Kiamah ayat 7-12.

"Peristiwa gerhana itu sebagai awal mula terjadi kiamat, karena sebelum kiamat terjadi, matahari sinarnya dan bulan kehilangan cahayanya, kedua berkumpul dan bertabrakan. Jadi gerhana adalah petanda kekuasaah Allah dan umat Islam dianjurkan salat, perbanyak istigfar dan sedekah, bukan malah menyembahnya (gerhana)," tutur ustad Suwanto.

“Kejadian gerhana matahari hendaknya dijadikan sebagai peringatan dan petunjuk bagi kita. Jika kita telah menyadari dan mengimaninya dengan sepenuh hati, kita juga akan menganggapnya sangat dekat. Sehingga kita tidak pernah menganggap diri kita teramankan dari murka dan azab Allah sekalipun. Maka yang terbaik dilakukan saat ini adalah berbenah diri dengan menabung amal sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang sebaik-baiknya untuk menghadapi hari pacekik yang dahsyat yang dikatakan sebagai ath-Thammah al-Kubra (malapetaka yang besar). Saat itu yang bisa diandalkan adalah amal yang telah kita kerjakan. Meskipun seandainya kemudian Allah mengampuni semua kekhilafan dan doa kita serta menerima amal kebaikan kita itu semata karena keluasan rahmat dan kasih sayang Allah SWT,” pungkasnya.

Berita Lainnya
HSN HARAPAN BERSAMA bank bjb bawah iklan umroh astra motor