background img
bank bjb
Tujuh Golongan Mendapat Naungan Allah Pada Hari Kiamat

Ustaz Sabit Mujahid M.Ag kajian Ahad di Masjid Jami Al Amanah GBI RW.07 (SPN/Asep Ruslan)

Kajian Ahad Masjid Al Amanah GBI RW.07

Tujuh Golongan Mendapat Naungan Allah Pada Hari Kiamat

BOJONGSOANG - Perubahan alam dunia ke Akhirat ditandai dengan Kiamat. Ketika hari Kiamat terjadi, manusia akan menghadapi situasi yang sangat menakutkan dan mengerikan. Dahsyatnya hari Kiamat telah diceritakan oleh Alquran di antaranya dalam surat Al-Waqi'ah, Al-Qiyamah, Al-Qari'ah. Dimana pada hari itu semua amal ditampakkan dan akan dihisab oleh Allah yang memiliki segala kerajaan.

Di hari kiamat mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak saling kenal antara satu dengan yang lain meskipun keluarganya sendiri. Karena masing-masing orang sibuk mengurusi dirinya sendiri dimintai pertanggungjawabannya dari apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.  Kondisi di hari itu sangatlah panas, karena matahari didekatkan dengan jarak sangat dekat di atas ubun-ubun.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Sabit Mujahid M.Ag usai sholat Maghrib di Masjid Jami Al Amanah Komplek Griya Bandung Indah (GBI) RW.07, desa Buahbatu, kecamatan Bojongsoang, kabupaten Bandung, Minggu (19/01/2020).

Ustaz Sabit mengatakan kecuali tujuh golongan yang akan mendapatkan keistimewaan pada hari kiamat. Tujuh golongan tersebut dikatakan akan mendapatkan naungan berupa awan yang menghalangi mereka dari teriknya panas matahari yang diceritakan hanya berjarak sejengkal dari ubun-ubun.

Golongan pertama adalah para imam yang adil. Maksud imam dalam golongan ini adalah Hakim atau penguasa dan semua orang yang memiliki kekuasaan di atas yang lain. Orang yang mampu menerapkan hukum di antara manusia dan kebenaran yang berdasar pada Alquran dan sunah. Pemimpin diartikan secara umum dari pemimpin rumah tangga hingga pemimpin suatu negara.

Jika seorang pemimpin tidak mampu menerapkan hukum yang benar, dapat dipastikan orang tersebut tidak akan mampu memimpin secara adil. Pemimpin yang tidak dapat berlaku adil maka dapat dipastikan dia hanya akan mengikuti hawa nafsunya selama memimpin. 

"Pemimpin yang adil itu adalah orang yang menetapkan hukum diantara orang-orang dengan tidak cenderung kepada hawa nafsu dan tidak berlaku risywah (suap) terhadap harta," ujar Ustaz Sabit.

Golongan kedua, lanjutnya adalah golongan para pemuda yang tumbuh dalam kebiasaan beribadah kepada Allah SWT. Pemuda yang rajin beribadah dan tumbuh dalam buaian agama, maka dapat dipastikan dia mampu memiliki dasar agama yang kokoh yang akan membimbingnya terus berada dalam jalan Allah SWT.

Jamaah kajian Ahad Masjid Jami Al Amanah GBI RW.07 (SPN/Asep Ruslan)

Ketiga, adalah orang yang hatinya terpaut pada masjid. Penjelasan Ustaz Sabit, terpaut dalam hal ini adalah adanya perasan resah dan tidak nyaman ketika seseorang jauh dari masjid, dan senantiasa rindu untuk kembali ke masjid.

"Jika ada perasaan seperti itu pada diri kita, kemungkinan kita tergolong dalam salah satu golongan yang akan dinaungi rahmat oleh Allah SWT," ujarnya.

Namun, Ustaz Sabit menyesali keadaan yang terjadi sekarang. Banyak orang lebih nyaman berada di kafe atau tempat keramaian lainnya. Menurutnya, masjid seharusnya dapat menjadi destinasi utama umat Muslim, baik saat ingin menyendiri maupun berkumpul dengan teman sejawat.

"Seharusnya kita harus budayakan masjid sebagai pusat kegiatan dan perkembangan agar fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW dapat kembali berlangsung," katanya.

Golongan keempat yang mendapat naungan rahmat Allah SWT, lanjutnya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Ungkapan “Aku mencintaimu karena Allah SWT” bukan hanya dapat diucapkan kepada pasangan saja, melainkan juga kepada keluarga bahkan teman.

Namun, untuk mendapatkan tiket naungan Allah pada hari kiamat, ungkapan ini haruslah diucapkan dengan penuh ketulusan dan keyakinan.

"Artinya, mereka benar-benar bersatu di atas jalan Allah SWT dan berpisah di atas jalan Allah SWT pula," ujarnya.

Kelima, adalah orang yang menyukai seseorang yang kaya dan rupawan, tapi dia menghindarinya karena takut akan dosa pada Allah. Hal ini, menurut dia, diumpamakan terjadi pada seorang pemuda yang mendambakan wanita cantik untuk dinikahinya, tetapi wanita itu justru mengajaknya ke arah maksiat. Maka, jika pria tersebut mampu menolak meski hasratnya pada wanita itu menggebu-gebu, niscaya dia dipastikan mendapat naungan Allah SWT.

Keenam, lanjut dia, adalah orang yang bersedekah, tetapi menyembunyikan sedekah tersebut, hingga tangan kirinya tidak mengetahui berapa nominal sedekah yang dia berikan. Hal ini juga sangat penting dilakukan demi menghindarkan diri dari perilaku riya dan sombong.

Terakhir, orang yang senantiasa mengingat Allah SWT baik saat sendiri ataupun di tengah keramaian. Golongan ini juga digambarkan sebagai orang yang tak dapat menahan air mata ketika meresapi kekuasaan Allah SWT, baik melalui Al Quran maupun makhluk ciptaan-Nya.

"Agar kita menjadi salah satu bagian dari tujuh golongan ini, saat membaca Al Quran coba resapi makna yang terkandung di dalamnya lalu refleksikan pada kehidupan kita, sadari kekurangan kita, dan mohon ampunlah kepada Allah SWT," pungkas Ustaz Sabit.

Berita Lainnya
HSN HARAPAN BERSAMA bank bjb bawah iklan umroh astra motor