background img
bank bjb
Polda.Metro Jaya Amankan 13 Tersangka Pengedar Tembakau Gorilla lewat Medsos

Polda.Metro Jaya Amankan 13 Tersangka Pengedar Tembakau Gorilla lewat Medsos

Jakarta, -- Subdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya mengungkap jaringan narkotika jenis tembakau sintetis atau biasa dikenal Gorila seberat total 28,4 Kilogram (Kg) yang kerap berjualan melalui platform media sosial.Total, terdapat 13 tersangka dalam kasus tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, penangkapan 13 orang tersangka kasus ini berdasarkan penyisiran dari enam Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara terpisah di daerah Jakarta dan Surabaya sejak 27 Januari 2020 lalu.

"Selama kurun waktu hampir 2 minggu, ada total 13 tersangka dan satu lagi DPO (Daftar Pencarian Orang, Red)," kata Yusri di kawasan Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Mereka adalah RS, MT, FB, PRY, MA, IL, RD, AR, MN, WA, RT, ARN, NH, dan RTF.

Rinciannya, sembilan tersangka berasal dari Jakarta dan empat tersangka lagi dari Surabaya. Sedangkan satu DPO lagi berinsial DBB.

Yusri menuturkan, saat ini pihaknya masih melakukan pencarian terhadap satu lagi tersangka yang diduga sebagai bandar tersebut."Masih satu tersangka DPO. Mudah-mudahan yang DPO ini bisa diamankan dan bisa kita kembangkan," tukas Yusri.

Di tempat yang sama, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Herry Heryawan mengatakan, pelaku mengedarkan dan berjualan narkoba melalui akun online shop di Instagram dan Facebook.

"Kalau saya jelaskan ini use of internet narkotik, bersangkutan melalui akun online shop dan akun medsos untuk menjual dan memperdagangkan tembakau Gorila ini. Ada usernya pengen lakukan transaksi pembelian bisa direct message lewat Instagram dan bisa mengikuti salah satu akun grup di Line," kata Herry.

Dalam transaksi jual beli itu, Herry menyebutkan, pelaku tidak menjual barang haram tersebut dengan sembarangan. Sebab, kata dia, pembeli diminta mengisi formulir data diri terlebih dahulu untuk kemudian di verifikasi.

"Ada semacam form yang harus diisi dan ada cek dan ricek baru dijualkan," tuturnya.

Herry menuturkan, pelaku membanderol narkoba gorila tersebut mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 2 juta tergantung berat isi yang diminta oleh pelanggan.

Nantinya, mereka mengirimkan barang tersebut melalui jasa transportasi online ataupun jasa ekspedisi. "Kadang mereka menggunakan ojol dan dia pun menyasar tempat dan penerimanya di tempat umum atau dikenali. Dan ada juga dia kirim menggunakan jasa pengiriman resmi," tukas dia.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika dengan pidana paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1 milliar.

Kembali Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, ganja sintetis yang diproduksi para pelaku merupakan jenis tembako gorilla nomor wahid. Di mana efek samping terhadap penggunanya akan berhalusinasi dalam tingkat lebih tinggi.

“Ini tembako sintetis atau kita kenal dengan tembako gorilla nomor satu, dampaknya membuat orang tidak sadar kayak seperti zombie,” kata Yusri

Menurut Yusri, ganja sintetis atau tembakau gorilla itu memiliki efek paling parah bagi penggunanya karena para pelaku memproduksi ganja sintetis tersebut dengan campuran bahan- bahan kimia yang membahayakan.

“Ini tembako biasa tapi dicampur dengan bahan- bahan kimia lainnya sehingga efeknya ada gangguan prilaku terhadap penggunanya,” pungkasnya.

Berita Lainnya
HSN HARAPAN BERSAMA bank bjb bawah iklan umroh astra motor