background img
bank bjb
Menangkal Radikalisme, Transideologi dan Terorisme Dari Masjid

Menangkal Radikalisme, Transideologi dan Terorisme Dari Masjid

TEGAL - Gerakan menangkal radikalisme, transideologi dan terorisme bisa dilakukan dari masjid dan mushola. Upaya tersebut harus dilakukan secara masif agar masyarakat tidak terjebak oleh paham-paham menyimpang yang bertindak radikal dan menjadi seorang teroris. Langkah penangkalan paham tersebut secara kongkrit bisa dilakuka oleh para imam masjid dan mushola serta khotib. Wujud dari itu, Kanzul Ilmi Center (KIC) Talok Bumiayu, Brebes menggelar pelatihan peningkatan kompetensi imam dan khotib dalam membendung radikalisme, transideologi dan terorisme, di KIC, Selasa (29/10).

“Radikalisme, transideologi dan terorisme telah merasuk ke berbagai lini, maka kita harus bergerak menangkal meski agak terlambat,” ujar Direktur KIC Dr Ahmad Najib Affandi di sela kegiatan.

Langkah nyata KIC dalam ikut serta membantu pemerintah dalam menanggulangi radikalisme, transideologi dan terorisme karena tiga hal diatas telah mengatasnamakan agama telah nampak nyata dalam aksinya.

Ketua Panitia Imam Tolhah SPdI menjelaskan, pelatihan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, karena espektasi panitia kehadiran sekitar 300 peserta, namun yang hadir mencapai 450 peserta.

“Kami berterimakasih atas attensi yang diberikan peserta pelatihan,” ucapnya.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Pontren Kantor Kementrian Agama Kabupaten Brebes H Akrom Jangka Daosat MA mengaku dirinya terharu melihat wajah-wajah polos para imam dan khotib masjid yang ada di desa-desa. Mereka rela meninggalkan warungnya, sawah, kebun dan pekerjaan lainnya nya selama sehari untuk mengikuti kegitan pelatihan.

Akrom menjelaskan, bahwa semua pihak wajib memahami tentang radikalisme, transideologi dan terorisme. Termasuk para imam dan khotib yang ada di daerah wajib tahu. Apalagi imam dan khotib sebagai garda terdepan dalam upaya menanggulangi berkembangnya terorisme dan radikalisme di Indonesia.

Menurut Akrom, saat ini banyak yang tidak memahami konsep Islam Nusantara tetapi langsung saja menolak konsep yang ditawarkan oleh NU tersebut. Padahal bagi orang-orang pesantren yang biasa ngaji pasti akan mudah memahami bahwa Islam Nusantara bukanlah paham, aliran ataupun ajaran baru apalagi agama baru.

“Islam Nusantara, merupakan penjelasan bahwa Islam yang dianut di Indonesia adalah Islam yang menghargai kearifan lokal, seperti yang pernah dilakukan oleh para walisongo dan ulama-ulama pendahulu. Karenanya, kita harus bersyukur sebagai jamaah Nahdlatul Ulama. Karena NU tak goyah dan menjadi garda terdepan yang membentengi Indonesia, dari ulah kaum radikalisme, transideologisme dan terorisme,” pungkas Akrom.

Pelatihan menghadirkan tiga nara sumber, yakni Direktur KIC Bumiayu Dr KH Ahmad Najib Affandi menyampaikan Fiqh sholat, Penasehat Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Brebes KH Aminudin Abdurrasyid menyampaikan tentang Fiqh Jumat dan Penasehat Himasal KH Ahmad Sururi menyampaikan Fiqh Sholat Jumat.

KH Ahmad Najib Affandi yang akrab disapa Gus Najib mengupas tuntas tentang hal-hal yang berkaitan dengan sholat, mulai dari syarat, tempat, waktu, tujuan dan ketentuan sholat. Selain itu, kiai yang juga menjadi pengasuh pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog ini juga menjelaskan  tentang syarat wajib, syarat syah, rukun, sunah sholat serta aurat di dalam pelaksanaan sholat.

Permasalahan seputar sholat ini walaupun sudah banyak dipahami oleh sebagian besar peserta namun tetap saja mendapat perhatian intensif. Hal ini nampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta saat sesi tanya jawab. Sebagian peserta menanyakan tentang hal-hal yang sering ditemui dan dihadapi saat menjadi imam dari tokoh agama di desanya.

Pemateri kedua, KH Aminudin Abdurrasyid mengusung bahasan tentang Retorika Khotbah Jumat. Dia menjelaskan tentang pengertian khotbah, dasar khotbah Jumat, syarat khotib, fungsi khotbah, tata cara khotbah, sunah-sunah khotbah hingga persiapan dan materi khotbah. Sedangkan pada sesi ketiga KH Ahmad Sururi, peserta disuguhi materi tentang Fiqh Jumat.

Pelatihan yang didukung Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Brebes, di hadiri antara lain Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Brebes, Camat Bumiayu, Danramil dan Kapolsek Bumiayu, para Kepala Kantor Urusan Agama serta para tokoh masyarakat dan agama sekitar Brebes Selatan.(hid/was)

Berita Lainnya
purwakarta kab COLUMBUS bess travel Brebes 4