background img
bank bjb
Marzuki Wahid: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Kian Meningkat

Marzuki Wahid: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Kian Meningkat

BREBES - Marzuki Wahid Dosen IAIN Syeh Nurjati Cirebon Jawa Barat mengingatkan bahwa kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) selalu meningkat terbukti setiap hari terjadi 1.112 kasus KTP di Indonesia. Kondisi memprihatinkan ini harus cegah bersama agar tidak semakin membengkak KTP di Indonesia, termasuk di Brebes.

Demikian disampaikan Kiai Marzuki saat memberi matreri pada seminar dalam Peringatan Hari Ibu ke-91 tahun  2019 tingkat Kabupaten Brebes, di pendopo Bupati Brebes (5/12).

Data Komnas Perempuan, kata Marzuki, selalu terjadi peningkatan KTP yakni Pada 2016 terdapat 259.150 kasus, Tahun 2017 meningkat menjadi 348.446 kasus, dan Tahun 2018 meningkat lagi menjadi 406.178  kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Setiap hari terjadi 1.112 kasus KTP, artinya setiap jam terjadi 46 kasus KTP di Indonesia,” ungkap Marzuki yang juga Mudir Ma’had Aly Kebon Jambu, Cirebon.

Sekretaris Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU menjelaskan, mayoritas pelaku adalah orang terdekat yang masih memiliki hubungan darah. Data 2018, Pelaku ayah kandung sebanyak 425 orang kasus, Kasus perkosaan sebanyak 619 kasus, persetubuhan/eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus.

Sepanjang 2017, lanjutnya, Komnas Perempuan mencatat ada 65 kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya. Pelakunya adalah pacar, mantan pacar dan suami. Ada juga kolega, sopir transportasi online dan pelaku anonim,
“Komnas Perempuan mencatat, kejahatan cyber dengan korban perempuan seringkali berhubungan dengan tubuh perempuan yang dijadikan objek pornografi,” kata Kiai Marzuki.

Sementara untuk lokus terjadinya KTP berada di Pulau Jawa 73 persen, Sumatera 13 persen, Papua 5 persen, Bali-NTB-NTT 4 persen, Sulawesi 3 persen dan Kalimantan 2 persen. Kekerasan seksual paling besar terjadi di rumah 37 persen, di sekolah 11 persen dan di hotel 10 persen.

Usia korban tindak kekerasan seksual menimpa di usia 11-20 tahun sebanyak 58,9 persen dan usia 1-10 tahun 29,5 persen. Korbannya adalah menimpa Perempuan 87 persen dan laki-laki 13 persen

“Sayangnya, 93 persen dari korban pemerkosaan tidak melaporkan, karena takut akibatnya. Sehingga 50 persen kasus kekerasan seksual berakhir dengan jalur mediasi. Jalur mediasi yang dimaksud adalah mengawinkan korban dengan pelaku kekerasan seksual meskipun dalam usia sekolah,” ungkap Marzuki.

Marzuki menerangkan, kenapa kasus kekerasan semakin meningkat dikarenakan beberapa faktor yakni ketimpangan relasi kuasa, kuatnya budaya patriarki, pembiaran atau pemakluman oleh masyarakat, dan penegakan hukum yang lemah.
Padahal dampak kekerasan seksual bagi korban tidak hanya fisik tetapi juga kesehatan, psikis, sosial, dan kematian masa depan.

Masyarakat pun ikut merasakan dampaknya yakni rusaknya moralitas, wabah IMS, HIV-AIDS, rusaknya silsilah keturunan, banyak anak terlantar, dan hancurnya tatanan sosial. Satu kunci untuk mencegah KTP adalah peran ibu sebagai madrasah utama di keluarga.

Seminar dengan tema meningkatkan peran perempuan dalam pendidikan anak dan pencegahan perkawinan anak mewujudkan perempuan berdaya, Brebes maju dibuka Sekda Brebes Ir H Djoko Gunawan MT. Dia memuji kaum perempuan Indonesia yang ternyata telah berkontribusi di banyak hal.  Perempuan pun juga banyak yang telah menjadi tokoh  publik, pejabat, bahkan pemimpin negara.

“Terus tunjukkan eksistensi, komposisi kaum perempuan dalam berjuang demi keluarga masyarakat dan negara,” ajak Djoko.

Seminar dihadiri Ketua TP PKK Kab Brebes Ny Sri Legiastuti Narjo, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny Dra Hj Sri Amini Djoko Gunawan, Ketua GOW Dra Hj Aqilatul Munawaroh MPd dan ratusan peserta serta tamu undangan lainnya.(hid/bam)

Berita Lainnya
bank bjb bank bjb bawah iklan umroh astra motor