Polda Metro Jaya Gelar Silaturahmi Nasional Tokoh Agama Bersinergi Guna Terjaganya Kamtibmas

Polda Metro Jaya Gelar Silaturahmi Nasional Tokoh Agama Bersinergi Guna Terjaganya Kamtibmas Ismet spn

JAKARTA، - Untuk meningkatkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik dan harmonis antara Polri khususnya Polda Metro Jaya dengan tokoh agama dan para ulama serta sebagai bentuk sinergitas guna terjaganya kamtibmas yang kondusif di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Polda Metro Jaya bersama TNI menggelar acara Webinar Silaturahmi Nasional Lintas Agama dalam bertajuk tema NKRI dan Doa Bersama oleh Al Habib Muhammad Lutfi Bin Ali Bin Yahya yang berlangsung di Balai Pertemuan PMJ, Minggu (27/12).

Tujuan silahturahmi dan doa bersama ini adalah untuk menyalurkan persatuan dalam menanamkan Bhinneka Tunggal Ika serta memupuk sifat toleransi, melakukan sesuai dengan visi Ketuhanan yang maha esa, serta pengabdian kepada negara, masyarakat dan lingkungan yang ada disekitar.

Kegiatan ini juga dihadiri Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, Kementerian Agama Petahana Yaqut Cholil Qoumas , Ketua MUI Miftachul Akhyar, Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, serta para Tokoh Agama.

Dalam sambutannya Kapolda Merto Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan, mengajak seluruh masyarakat untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya serta selalu menjaga dan mengamalkan arti sesungguhnya Bhinneka Tunggal Ika yang dikonkritkan dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kita semua cinta Indonesia dan kita sebagai anak bangsa harus menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa, ” ujarnya.

“Di dalam kondisi pandemi Covid 19 ini kita harus tetap memupuk persatuan tanpa melihat perbedaan agama, suku dan menghindari dari yang namanya intoleransi serta melawan radikalisme dan terorisme, ” ujarnya.

Fadil juga mengatakan peradaban dan kemajuan besar dunia ditopang oleh tiga hal, yaitu pengetahuan, kemajemukan dan toleransi.

Dia mengatakan pengetahuan melahirkan kehidupan yang makin unggul pada semua bidang lewat teknologi informasi.

Kemajemukan memungkinkan setiap orang atau bangsa saling mempertukarkan pengalaman, kearifan dan kebudayaan yang terbaik. Sedangkan toleransi memberi ruang perbedaan tumbuh dan saling menyemai sehingga kehidupan bersama bisa disanggah.

Dalam pertemuan itu, Ketua Gerakan Gus Dur, Allisa Wahid mengatakan keberagaman adalah salah satu landasan fundamental dari lahirmya Indonesia.

"Gus Dur menuliskan 'Indonesia ada karena keberagaman, kalau tidak ada keberagaman tidak perlu ada Indonesia'," kata Allisa Wahid mengutip Gus Dur.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan agama sebagai inspirasi bukan sebagai aspirasi.

"Saya mengajak kita semua menjadikan agama sebagai inspirasi bukan sebagai aspirasi. Itu apa artinya? Yang paling sederhana adalah kita belakangan ini merasakan sudah ada yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik," kata Yaqut.

"Dijadikan norma konflik itu dalam bahasa yang paling ekstrem, siapapun yang berbeda dengan dia dan keyakinannya maka dia dianggap lawan, dia dianggap musuh, karena namanya musuh, namanya lawannya, harus diperangi, kalau istilah kerennya Mbak Lisa ini 'Populisme Islam'," katanya.

Karena itu, dia pun berharap agar segala hal yang mengancam tenun kebangsaan dan kebhinekaan bisa ditekan sedini mungkin agar tidak berkembang luas hingga sulit dikendalikan.

"Saya tidak ingin, kita semua tidak ingin, 'Populisme Islam' ini berkembang luas sehingga kita kewalahan menghadapinya, maka di pidato pertama itu saya sampaikan mari kita semua menjadikan agama sebagai inspirasi bukan sebagai aspirasi," ujarnya

Editor: Chairul Ichsan

Bagikan melalui:

Komentar