background img
bank bjb 1
Lika-Liku Perjalanan Mualaf Cantik Berdarah Tionghoa, Julia Prastini

Julia Prastini (Foto: Instagram/@juliaprt7)

Lika-Liku Perjalanan Mualaf Cantik Berdarah Tionghoa, Julia Prastini

Kedekatan Wafiq Malik dengan sang kakak, Taqy Malik membuat dirinya turut menjadi sorotan publik. Mengikuti jejak sang kakak, wanita bercadar ini ternyata juga gemar membagikan konten tentang Islam.

Hal ini dibuktikan melalui channel Youtube miliknya yang kerap membagikan konten-konten terkait.

Salah satu konten menarik adalah dirinya yang membagikan kisah perjalanan menuju hijrah seorang mualaf bernama Julia Prastini. Wanita yang akrab dipanggil Jule ini merupakan teman dari Wafiq yang dikenalnya dari seorang teman lainnya yakni Dayra.

Dalam perbincangan tersebut, turut dikisahkan proses perjalanan panjang Jule sebagai seorang mualaf. Ia menceritakan bahwa dulunya ia adalah seorang penganut agama lain yang taat, dengan rajin beribadah setiap hari Minggu, hingga aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan tempat ibadah tersebut.

Titik terang menuju hijrah pertama ia dapatkan dari ibunya yang memutuskan untuk masuk Islam.

“Gue sekarang ada bokap sambung, nyokap nikah lagi dan akhirnya jadi masuk Islam. Tapi gue belum pengen, nyokap juga enggak maksa karena gimanapun agama bukan mainan kan. Tapi di situ nyokap kayak pelan-pelan ngajak gue, dan bilang, ayo dong masa kita mau satu keluarga ada yang beda agama,” kata Jule, dikutip dari channel YouTubenya, Wafiq Malik.

Sempat suatu waktu, ibunda Jule membujuknya agar memikirkan keputusannya memeluk Islam, dengan alasan agar kedua anaknya dapat mendoakannya ketika suatu saat ibunya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Namun, bujukan tersebut tak diterima oleh Jule, ia justu mengatakan untuk tak mencampuri urusan agamanya dengan agama yang dipeluk ibunya itu.

Jule merasa semakin didekatkan dengan momen diberikannya hidayah oleh Allah akan agama Islam ketika mengunjungi rumah pamannya. Paman yang berasal dari agama yang berbeda menanyakan perihal agama kepada Jule, dan justru mengingatkannya untuk mengikuti keinginan ibunya untuk membahagiakan sang ibu.

“Om gue bilang pas gue lagi ke rumah dia, dia bilang “Kamu disuruh mami masuk Islam?” Gue bilang iya tapi gue gak mau. Terus dia bilang lagi, “Ya udahlah ikutin aja. Emang pernah bikin mami bahagia apa sih? Bikin seneng apa sih, berbakti apa? Untuk sekarang mah ikutin aja dulu, nanti kalau udah gede ya terserah," katanya mencontohkan omongan sang paman.

Dari situlah wanita berdarah Tionghoa ini mulai memikirkan pembicaraan sang paman. Hingga suatu waktu, saat bangun dari tidurnya, ia memanggil ibunya untuk membawakannya segelas air putih dan mengatakan bahwa dirinya yang saat itu masih berusia 9 tahun akhirnya ingin untuk masuk Islam sebagaimana permintaan ibundanya.

Ia menceritakan keputusannya tersebut tak mudah. Kondisi ibunya yang telah lama menjadi orangtua tunggal secara tak langsung membuat dirinya sebagai anak sulung harus memposisikan diri jauh lebih dewasa daripada umur yang sebenarnya. Maka tak heran, di usianya yang masih belia ia sudah terpikirkan untuk mengambil keputusan sebesar itu.

Belum genap tiga bulan dirinya resmi memeluk Islam, ia dianjurkan untuk masuk pesantren oleh orangtuanya. Awalnya ia menolak, dengan dalih bahwa seharusnya dengan masuk Islam saja sudah sangat bagus sehingga tak perlu dipaksa untuk mendalami agama tersebut. Di tengah penolakan tersebut, ia akhirnya berpikir bahwa mungkin inilah satu-satunya jalan untuk menunjukkan baktinya kepada orangtua, hingga pada akhirnya ia mengiyakan perintah tersebut.

“Baru setahun di pesantren gue udah enggak kuat banget, tapi nyokap gue tuh kayak semangatin lagi, pertahanin lagi, karena nyokap gue pengen anak-anaknya itu kenal sama Tuhannya dan paham agama.” kata Jule.

“Akhirnya gue ngerasa mau sendiri di pesantren, karena merasa cozy aja di sana,” tambahnya.

Berada di lingkungan baru dengan segala runtutan kebiasaan yang tak diketahuinya, terlebih dengan segala adaptasi yang perlahan harus ia maklumi tentu tak mudah untuk dijalankan.

“Gue masuk pesantren belum 3 bulan setelah masuk Islam. Baca alif, ba, ta, tsa, aja enggak tahu, bacaan sholat aja gue enggak tahu apa-apa,” ujar wanita berdarah Tionghoa ini menceritakan perjuangannya.

Tak hanya itu, diceritakan pula proses dirinya yang begitu sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan pesantren, hingga sulitnya saat menghafal Alquran, salah satunya surat Ar Rahman di mana ia begitu tertinggal dengan teman-temannya hingga tak jarang mendapati dirinya menangis karena kesulitan. Namun, segala tantangan mampu ia lalui hingga kini dirinya telah berhasil menghafal beberapa juz Alquran.

sumber: okezone muslim 

Berita Lainnya
PDAM bdg NOPEMBER Perumahan pa sep iKLANBREBES 1 bawah 4