Dijamin Keamanan Vaksin COVID-19, Jangan Abaikan Protokol Kesehatan 3M

Dijamin Keamanan Vaksin COVID-19, Jangan Abaikan Protokol Kesehatan 3M Ahmad spn

Kita sebagai warga negara yang baik sudah layak dan sepantasnya kita mengapresiasi terhadap upaya keras Pemerintah Indonesia untuk mendapatkan Vaksin Covid-19 saat ini. Hingga 14 Januari 2021 mendatang Pemerintah akan memulai penyuntikan secara serentak di tanah air yang pertama disuntik Vaksin adalah Presiden Jokowi menyusul Kepala Daerah dan kalangan dokter dan Perawat sebagai garda terdepan dan berikutnya kepada masyarakat luas.

Covid-19 takpernah punah jika Vaksin tidak disuntikkan pada tubuh guna kekeban tubuh, Covid-19 akan selalu mengintai kita jika kita menolak untuk disuntik Vaksin.

Menyikapi tentang penyebaran Vovid-19 di awal Tahun 2021 ini, penyebarannya sangat siknivikan, terutama Jawa dan Bali. Dengan penularan Covid-19 terbut, Gugus tugas Covid-19 Pusat memutuskan untuk diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) di wilayah Pulau Jawa dan Bali.

Sementara untuk Jawabarat, 20 Kabupate Kota untuk melakukan PSBB di wilayah masing masing.

Berangkat dari hal tersebut, Penulis menyarankan kepada semua pihak agar dapat menerima suntik Vaksin Covid-19 demi kesehatan anak bangsa kedepan dan tetap mematuhi Protokol kesehatan 3M (Memakai Masker yang benar, Mencuci tangan dengan sabun, Menjaga jarak) serta menjauh dari kerumunan, kendati pun telah disuntik Vaksin Covid-19 nanti. Dan jangan pernah kita takut di suntik Vaksin Covid-19 juga jangan percaya berita hoax, suntik Vaksin Covid-19 aman .

MUI (Majelis Ulama Indonesia) menyatakan Jumat 8/1 bahwa vaksin Sinovac hukumnya suci dan halal, kini vaksin COVID-19 izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), dan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia sudah ada

Izin yang dikeluarkan oleh Badan POM menjamin mutu, keamanan, dan khasiat vaksin Sinovac untuk selanjutnya akan digunakan pada tahap pertama vaksinasi bagi tenaga kesehatan dan tahap kedua, yaitu petugas layanan publik.

Kedua keputusan ini akan menjadi awal program vaksinasi COVID-19 yang diharapkan mampu mempercepat pengendalian pandemi di Indonesia.
Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang juga Ketua Satgas Imunisasi IDAI mengatakan dalam sebuah diskusi KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) di Jakarta Mengatakan, “Mutu dan keamanan vaksin COVID-19 ini tidak perlu diragukan lagi karena sudah melalui fase uji klinik 1 dan 2.

Sementara penggunaan berdasarkan evaluasi dari analisa interim uji klinik 3 di Brazil, Turki, dan Indonesia, maka terjamin 3 aspek penting: aman, bermutu dan berkhasiat. Selanjutnya, aspek kehalalannya sudah dijamin MUI.

Jadi, jangan ragu untuk divaksinasi.”Untuk diketahui oleh masyarakat luas, vaksin merupakan salah satu cara pencegahan terpenting dari rangkaian upaya penanggulangan COVID-19. “Bantuan dari vaksin itu sangat perlu untuk mengakhiri pandemi selain mencegahnya melalui 3M (Memakai masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga jarak) dan 3T (Pemeriksa, Pelacakan, dan Perawatan)

Survei terakhir juga dari Kementerian Kesehatan, UNICEF, WHO, dan ITAGI menunjukkan masih ada sekitar 27,6 persen masyarakat ragu untuk menerima vaksin karena beberapa alasan.

“Penyebabnya mereka meragukan keamanannya. Kalau saat uji pra klinik saja tidak aman, tidak akan bisa dilanjutkan sampai fase uji klinik berikutnya. Jadi Badan POM telah mengeluarkan izin penggunaan, vaksin COVID-19 sudah pasti aman. Terkait dengan efikasi vaksin, Prof. Cissy merujuk pada rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa vaksin dengan efikasi di atas 50% dapat digunakan oleh masyarakat luas.

“Jika vaksin A memiliki efikasi 70% dan vaksin B memiliki efikasi 90%, bukan berarti vaksin B lebih baik dari vaksin A. Dengan efikasi yang tinggi, maka cakupan rasio vaksinasi bisa dilakukan tidak terlalu tinggi. Tapi kalau efikasinya tidak terlalu tinggi, maka cakupan vaksinasinya harus lebih besar.

Tapi bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Selama efikasi di atas 50% sesuai rekomendasi WHO, dan Badan POM sudah mengeluarkan izin penggunaan, maka saya tegaskan vaksin tersebut aman untuk digunakan. Untuk efek samping, atau yang disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), sesuai hasil uji klinik yang telah dilakukan, sangat jarang ditemukan dan bersifat ringan, serta mudah diatasi.

“KIPI itu ada yang ringan seperti merah atau bengkak di tempat penyuntikan atau demam. Namun itu akan hilang satu dua hari sesudahnya. Maka dari itu, setiap orang yang baru selesai disuntik harus menunggu 30 menit untuk diobservasi.

Meskipun sudah ada vaksin, masyarakat dihimbau untuk terus mematuhi protokol kesehatan yang ketat. “Semakin cepat vaksin dilakukan dan semakin banyak masyarakat yang divaksin, maka pandemi makin cepat kita tangani hingga kasusnya nol. Ini bukan tidak mungkin karena ada negara yang sudah melaporkan kasus nol.

Untuk itu, perlu dukungan dari teman-teman tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang sebaik-baiknya pada masyarakat, salah
satunya dengan mengikuti vaksinasi.

Oleh Wartawan sinarpaginews
yang bertugas di PURWASUKA (Purwakarta Subang Karawang)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar