background img
BJB 2017
Bicara tentang AC Milan sebagai Klub Papan Tengah

Bicara tentang AC Milan sebagai Klub Papan Tengah

AC Milan baru saja mengalami kekalahan telak dari Juventus di San Siro akhir pekan kemarin. Kalah 0-2. Tak mengejutkan jika melihat performa Milan dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak meraih gelar Serie A pada tahun 2011, Milan tak pernah meraih gelar itu lagi. Gelar juara tahun itu merupakan yang kedua dalam 17 tahun terakhir. Semakin ke sini, Milan bahkan terus mengalami kemunduran.

Kebesaran Milan benar-benar runtuh dimulai pada musim 2014/2015. Jika tiga tahun sebelumnya mereka masih punya pemain seperti Alessandro Nesta, Clarence Seedorf, Filippo Inzhagi. Pada musim itu nama-nama tersebut digantikan dengan pemain seperti Adil Rami, Riccardo Montolivo, Fernando Torres. Dan pada musim itu, Milan hanya mampu finis di peringkat 10.

Sejak saat itu dan sampai saat ini, Milan tidak pernah terhitung sebagai tim yang masuk sebagai tiga besar sebagai syarat bisa bermain di Liga Champions. (Mulai musim ini, Serie A mendapat jatah empat klub yang otomatis lolos ke Liga Champions).

Revolusi yang Belum Memberi Perubahan

Upaya menyelamatkan Milan datang dari konsorsium Tiongkok di bawah komando Yonghong Li. Lolos ke Liga Champions adalah target utama Milan setelah mereka menebusnya dengan harga senilai Rp. 10,4 triliun. Namun upaya tersebut nampaknya belum bisa membawa perubahan di dalam tubuh Milan yang sedang 'sakit'.

Pada musim panas kemarin menjadi awal revolusi Milan setelah pergantian kepemilikan dari tangan pemilik sebelumnya, Silvio Berlusconi. Mereka membeli 11 pemain baru sampai menghabiskan biaya transfer sekitar 200 juta euro termasuk untuk mendatangkan Leonardo Bonucci, Andre Silva, hingga Lucas Biglia.

Milan tampak meyakinkan menjalani awal musim ini dengan memenangkan dua laga perdana menghadapi Crotone dan Cagliari. Tapi ketika kemudian menghadapi klub yang lebih kompetitif, Lazio (yang saat ini di peringkat 3), Milan menelan kekalahan dengan skor 4-1.

Memang Milan tidak selalu kalah tapi ketika menghadapi klub-klub yang saat ini berada di posisi enam besar klasemen—zona untuk tampil di kompetisi Eropa musim depan—Milan selalu kalah. Di Sampdoria (peringkat 6), Milan kalah dengan skor 2-0. Milan kemudian dipermalukan AS Roma (5) di San Siro dengan skor 0-2. Lalu menghadapi Inter Milan (4), Milan kalah 3-2. Yang terakhir, bertemu Juventus (1) mereka ditekuk dengan skor 2-0.

Rangkaian kekalahan tersebut membuat Rossoneri masih tertahan di peringkat delapan dengan 16 poin, berjarak 10 poin dari Inter Milan di peringkat empat—zona terakhir untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Dengan peringkat pertama, Milan sudah berjarak 15 poin memasuki pekan 11.

Melihat performa Milan menghadapi klub-klub papan atas membuktikan bahwa Milan sulit diharapkan keluar sebagai juara. Alih-alih juara, menembus empat besar pun akan terasa sangat sulit bagi tim besutan Vincenzo Montella tersebut mengingat laju bagus para tim yang berada di atas Milan.

Mantan kapten Milan dan sekaligus legenda klub, Paolo Maldini, pun meragukan bahwa mantan tim yang pernah ia dibela tersebut akan mampu bersaing untuk mengakhiri musim sebagai empat besar.

"Saat ini, Milan tidak layak berada di posisi empat besar. Tapi, masih ada musim yang panjang di depan. Sejauh ini, tim-tim lain bermain lebih baik dari Milan dan lebih pantas berada di papan atas," ucap Maldini setelah melihat Milan kalah dari Juventus.

Terjebak di Papan Tengah

Liga Champions adalah target utama Milan musim ini. Gagal bermain di kompetisi paling elit di Eropa tersebut akan sangat berpengaruh besar pada kondisi Milan di masa yang akan datang. Dari kompetisi itu, Milan mengharapkan peningkatan pendapatan finansial. Mereka membutuhkan dana itu untuk menutupi utang. Sebab jika mengalami kerugian di akhir musim setelah melakukan belanja pemain besar-besaran seperti tahun ini, bisa membuat Milan tersandung peraturan Financial Fair Play.

Dan jika target tersebut tak tercapai, CEO AC Milan, Marco Fassone, mengungkapkan maka mereka terpaksa harus kembali melepas salah satu pemain topnya. Bisa jadi sejumlah pemain yang baru dibeli pada musim panas lalu akan kembali dilepas untuk mencegah kerugian signifikan. Dan harapan Milan untuk menjadi Milan hebat seperti dulu harus kembali tertunda.

Tidak mudah bagi Milan keluar dari status tim papan tengah seperti dalam beberapa musim terakhir. Secara berlahan, Milan telah terjangkit ‘penyakit’ mental. Tak adanya mental juara sudah sangat tampak jelas pada penampilan pemain Milan di atas lapangan. Apalagi dalam skuat Milan saat ini yang memiliki pengalaman juara bersama Milan tinggal menyisakan nama Ignazio Abate.

Tak Ada Sistem Berjalan di Milan

Seringnya pergantian pelatih juga banyak memberi pengaruh pada Milan. Dalam tiga tahun terakhir, Milan telah melakukan empat kali pergantian pelatih. Ironisnya, Milan justru seperti berjalan tanpa arah karena tidak ada sebuah sistem yang berjalan dengan baik.

Jika dibandingkan dengan klub papan atas saat ini, Milan tertinggal cukup jauh. Membandingkannya dengan Lazio, misalnya, Milan tidak bisa dikatakan lebih baik. Meskipun Lazio tak memiliki pemain yang sangat populer seperti klub papan atas lainnya, tapi sistem yang mereka bangun sudah bekerja dengan baik. Buktinya, meskipun mereka kehilangan Lucas Biglia pada musim panas lalu, hal itu tak banyak memberi pengaruh. Apalagi membandingkan Milan dengan Napoli, AS Roma, Juventus, tentu malah lebih jauh tertinggal.

Sedangkan di Milan saat ini, dengan hadirnya para pemain baru, Montella harus membangun sistem dari awal. Milan memang punya materi mentah yang di atas kertas cukup punya kualitas. Tapi pelatih harus bisa meraciknya sebagai sesuatu yang memiliki nilai. Seumpama jika Montella akan membuat sambal, ia sudah punya semua bahan yang diperlukan. Namun komposisi yang tepat untuk menjadikannya sebagai sambal yang enak, masih menjadi pertanyaan.

Musim lalu merupakan prestasi terbaik Milan sejak 2014 dengan menduduki peringkat enam klasemen. Mereka akhirnya bisa bermain di kompetisi Eropa meski hanya di Liga Europa. Tapi jika melihat Milan musim ini sungguh berbeda dengan musim lalu. Montella banyak memasang para pemain baru secara bersamaan dalam starting XI, tanpa menyambungnya dengan sistem sebelumnya. Ini membuat sistem sebelumnya mengalami pengaburan kembali.

Tantangan Berat Pelatih Milan

Milan memang masih punya nama besar di dunia. Mereka memiliki jutaan pendukung fanatik di berbagai penjuru dunia mengingat mereka pernah menjuarai Liga Champions tujuh kali dan 18 kali sebagai juara Serie A. Tapi ada benang yang terputus antara tradisi besar peninggalan Milan sebelumnya yang gagal bertransformasi menjadi Milan sekarang. Menyambungnya tidak cukup waktu semalam.

Inilah tantangan besar pelatih Milan. Jika masalah ini tak segera diatasi maka 'DNA Juara di Eropa' yang masih sering didengungkan Milanisti bisa benar-benar hilang ditelan zaman.

(spn/bola/shd)

Berita Lainnya
IKLAN BABEL 5 IKLAN TAHUN BARU ISLAM RADIO THOMSON1 HARI TAHUN BARU ISLAM
Hotel Pasa baru IKALAN KANG ERWIN IKLAN BABEL PPP IKLAN PARTAI DPI BABEL